Teror TV

29-Juli-2010 1 tanggapan

Akhir-akhir ini saya makin sering menggenggam remote control saat menyaksikan acara televisi. Bukan hanya karena remote ini sudah perlu ganti batre (sehingga perlu pencet paksa supaya kerasa efeknya), tapi juga karena sekarang saya harus sering-sering mengubah channel televisi yang saya tonton.

Lihat tayangan berita, sudah tidak ‘mendidik’ bagi saya. Entah kenapa, sekarang ini stasiun televisi dengan tenangnya menayangkan korban-korban kecelakaan, entah itu dalam kondisi luka parah atau sudah meninggal. Memang sih, kadang dikasih sensor blur, tapi tetap saja saya tahu kalau itu shoot scene si korban. Memangnya ngga bisa ditampilkan gambar lain, misalnya kondisi kendaraan? Eits, tapi jangan yang masih penuh bercak darah gitu dong!

Kebiasaan ini sepertinya muncul sejak masa ramainya pemberitaan penyergapan terduga teroris. Masih ingat betul, gambar yang sama, dengan presentasi dan narasi yang sama, ditayang berulang-ulang, yang hanya menampilkan ruang bekas penggerebekan – yang eksklusif dengan sisa-sisa darahnya. Jiah! Sedangkan game aja ada ratingnya, yang penuh darah begitu ga bakal lolos untuk 13 tahun ke bawah, ini malah ditayangkan di jam segala umur!

Yang juga lagi nge-tren sekarang ini, demo yang anarki. Sungguh saya tidak bisa membayangkan kenapa tayangan ini berkali-kali tampil. Entah masalah pilkada, sengketa tanah, transparansi keuangan (heran mahasiswa kok anarkis di kampus sendiri), sampai advokat yang ngamuk-ngamuk di gedung negara (heran, mereka tidak percaya pada jalur hukum yang selalu mereka perjuangkan). Saya sering berprasangka buruk, tayangan macam inilah yang membuat masyarakat di tempat lain “terinspirasi” berlaku anarkis di mana-mana. Dan, jika ini ditonton oleh para calon wisatawan dan investor, … Apa kata dunia??

Tayangan lain, hiburan, juga sering membuat saya serba salah. Memang sih acara nyanyi-nyanyi, tapi… busananya itu lho! Tariannya itu lho! Weleh, jadi inget dulu ribut-ribut masalah RUU pornografi dan pornoaksi, ke mana tuh para aktivis yang rame-rame itu. Apa ya kudu sampai separah kasus video asusila begitu baru di-bredel penayangannya?

Ah, saatnya saya ganti batre remote. Tentu, sebelum saya punya dana untuk ganti televisinya!

Memangnya Kenapa Kalau Bolos??

26-Juli-2010 Tinggalkan komentar

Jadi inget, waktu kecil dulu, saya punya raport. Di bagian bawah, ada rekapitulasi kehadiran. Sakit, izin, alpa. Hampir tidak pernah kolom ‘alpa’ di raport saya kosong. Maklum, dari dulu, saya selalu malas bikin surat pembertiahuan kalau ngga masuk sekolah.

Belakangan setelah saya kerja, di kantor saya digunakan presensi dengan finger print. Saya tidak terlalu suka, karena kantor saya toh bukan pelayanan publik, ngapain juga kita standby di kantor seharian. Tapi, saya tetap saja mengikuti pola presensi itu, meski setelah mendaftarkan jempol saya langsung pergi lagi.

Hari-hari terakhir ini saya agak heran dengan ribut-ribut bahwa DPR mau pakai presensi dengan finger print. Katanya, untuk mengurangi anggota yang bolos. Wah, perlu diprotes itu, lha itu kan para wakil rakyat yang mewakili saya-saya ini yang pada doyan bolos…

Barangkali mereka super duper sibuk. Rapat di mana-mana, ketemu konstituen, mempertahankan posisi di partai… Wajar dong kalau mereka sampai keteteran mengatur waktunya. Saya lebih setuju kalau para anggota dewan itu dihadiahi organizer yang cerdas. Jadi ada notifikasi bahwa jam sekian dia harus rapat apa di mana, supaya ngga ada lagi jadwal bentrok, dan bisa kasih tahu bahwa beberapa menit lagi mereka harus berangkat ke ruang rapat, mengingat dari GPS diketahui jalanan macet… Lengkap dengan bahan-bahan rapat yang bisa dilihat secara elektronik, supaya bisa diindeks, agar pembicaraan waktu rapat lebih bermutu.

Rasanya itu lebih berguna daripada sekedar fingerprint.

Ruang Tunggu Dokter yang Nyaman

21-Juli-2010 Tinggalkan komentar

Kapan terakhir kali Anda duduk di ruang tunggu dokter? Entah itu gara-gara Anda sendiri yang sakit, atau mengantar kerabat, atau memang jadwal rutin Anda ke dokter gigi misalnya?

Oke, baiklah. Mari kita ubah pertanyaannya. Kapan terakhir kali Anda merasa nyaman di ruang tunggu dokter?

Saya pribadi tidak pernah nyaman berada di ruang tunggu dokter. Dalam rangka apapun, dan dokter spesialis apapun. Barangkali karena saya mendatangi dokter yang salah, dokter “papan bawah” yang tidak memikirkan layout ruang tunggunya.

Berkali-kali saya harus duduk di bangku kayu yang keras dan super duper tidak nyaman. Padahal jelas-jelas yang datang ke ruang tunggu itu adalah orang yang sakit, atau setidaknya mengantar orang sakit. Rasanya sang dokter kurang peduli untuk berinvestasi pada bangku.

Dan, tentu, saya tidak mengharapkan ada AC di sana. Namun setidaknya dapat dipikirkan sirkulasi udara agar ruang tunggu itu tidak menjadi kontes aroma minyak angin segala merk. Ada memang yang dilengkapi kipas angin, namun itu juga masih membuat saya ngeri – jangan sampai justru kipas itu menerbangkan bibit penyakit ke sana ke mari…

Sekali-kalinya saya senang dengan kondisi ruang tunggu, adalah di sebuah rumah sakit internasional yang bekerjasama dengan sebuah rumah sakit di Singapura. Tapi tetap saja saya tidak nyaman ketika antri di ruang administrasi – gemetar mikirin pembayaran!

Gonta Ganti Nama Negara

5-Juli-2010 1 tanggapan

Karena malam ini ngga ada pertandingan piala dunia, kepala saya yang usil ini mulai iseng berpikir yang aneh-aneh. Sekali ini saya memikirkan penamaan negara-negara peserta piala dunia.

Agak lucu kalo mengingat beberapa nama diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Yang udah biasa banget, jelas, United States of America menjadi Amerika Serikat. Lalu ada Korea Selatan dan Korea Utara. Waktu belum bersatu, ada juga tuh kesebelasan Jerman Barat.

Ada juga yang ngga nyambung dengan aslinya. Netherland, jadi Belanda. Spain jadi Spanyol. Greek jadi Yunani.

Jadi ngga konsisten rasanya dengan penamaan manusia yang tidak diterjemahkan. Misalnya tidak pernah ada George Semak-semak, atau William Coklat.

Oya, apa sih nama asli negara Pantai Gading itu?

Acara Radio yang Ngga Ada Matinya

30-Juni-2010 1 tanggapan

Yup. Karena belon punya dana untuk mengganti head unit standar di mobil (penginnya sekalian yang 2-din touch screen sih), dengan terpaksa saya cukup puas untuk sehari-hari menjejali kuping saya dengan acara-acara dari radio.

Untungnya di kota Surabaya ini stasiun radio padat merayap. Jadi saya bisa pilih semau mood hati. Kadang pasang radio yang muter campursari, dangdut, oldies, indonesiana, atau sekalian radio ngobrol yang sepanjang hari si penyiar ngobrolin ini-itu.

Satu hal yang bagi saya menarik adalah pola acara di radio-radio itu tidak banyak berubah dari sejak awal saya mengenal radio. Kekuatannya masih sama: komunitas. Ada radio yang bahkan memiliki aplikasi blackberry bagi para penggunanya, dan melakukan live streaming siarannya, saking kuatnya komunitas mereka.

Kekuatan komunitas itu terasa ketika jeda antar-lagu. Ada saja orang yang mengirim SMS, atau bahkan menelpon live ke studio untuk berkirim salam. Karena kemajuan teknologi pula, beberapa radio memanfaatkan facebook untuk menampung komunitas mereka. Ada radio yang cukup kreatif memanfaatkan komunitas ini untuk mendapatkan feedback mengenai berbagai layanan umum, seperti kondisi lalu lintas di jam-jam sibuk.

Fenomena ini membuat saya merasa perlu berpikir ulang mengenai siklus produk. Dulu, dalam benak saya, dengan makin banyaknya gadget pemutar musik, orang akan punya pilihan untuk mendengar musik yang mereka sukai saja. Maka radio akan tergencet karena tidak mungkin mereka memuaskan seluruh pendengarnya.

Tapi, jelas, saya salah. Manusia tetap manusia yang perlu berinteraksi. Bahkan ketika semua orang bisa SMS langsung kepada orang yang dituju, tetap ada yang merasa perlu memakai media radio untuk menyampaikan SMS tersebut.

Ah, ganti radio dulu ah, saatnya iklan.