Feeds:
Tulisan
Komentar

Terminal

Sudah lama saya tidak ke terminal. Oke, hampir tiap hari saya lewat, tapi yang benar-benar berada berjam-jam di dalamnya sudah lama tidak saya nikmati. Ini kali, gara-gara bis yang akan saya tumpangi telat datangnya.

Entah mengapa, saya suka merasa ada energi tertentu yang berpusar di terminal. Misalnya, bagaimana seorang penjual nasi bungkus bergerak mengikuti matahari. Betul, secara harafiah, dia bergerak sesuai pergerakan matahari.

Mula-mula dia berteduh di bawah rindang pohon. Ketika matahari bergeser dan pohon itu tak lagi memberi keteduhan, dia bergeser di balik tembok pagar. Tak lama, dia berpindah lagi… ke sebelah pembatas WC umum. Dan, ketika matahari digantikan lampu-lampu akrilik, dia pun bergegas memburu tiang lampu untuk memajang dagangannya.

Saya tidak habis pikir betapa dia melakukannya dari hari ke hari, dengan irama yang nyaris sama. Ketika orang datang dan pergi, dia setia dengan nasi bungkusnya, tak ada kegetiran di wajahnya. Bahkan, ketika seorang pengemis menghampirinya, dia membiarkannya mencomot sebungkus – tanpa merasa perlu meminta bayaran.

Di titik ini, saya tidak tahu lagi rona wajah saya. Tadi, saya nyaris batal memberi pengemis itu sekeping logam. Penjaja nasi bungkus itu, yang saya bahkan tidak tertarik mengintip isi bungkusannya, rela memberikan dagangannya begitu saja. Hidupnya, nafkahnya, tanpa bicara dia ikhlaskan.

Saya benar-benar mati gaya. Beruntung bis saya segera datang.

Konyolnya Tech-addict

  • Suatu saat, barangkali akan ada penjaja jasa scanning dan printing keluar-masuk kampung. serasa jualan nasi goreng.
  • Untuk mengoreksi hasil PR siswa, guru harus mengecek website masing2 siswa…
  • Ada wireless-sleep technologi, ketika mimpi bisa di-sharing online…
  • Untuk memanggil anak-anak ke meja makan, orangtua musti masuk ke messenger anaknya…

Sebagian, mungkin, udah kejadian.

Keseringan bikin tugas yang rada kopi-paste, lama-lama ngga enak juga sama pengarang aslinya. Berikut ini cara mengutip karya orang lain (citation/bibliography) dalam tulisan ilmiah, dengan harvard style.

Silakan download Hardvard Style Citation.

Cara Refill Tinta Canon

Gara-gara ganti printer, saya gak nyadar kalau model cartridge di printer Canon iP1800 ini beda dengan yang biasa saya refill dengan iP1000. Terutama urusan dengan tinta warna, kan gak boleh kebolak kebalik, jadi ribet deh, biasanya tinggal ditetesin di baliknya, sekarang musti dibolongin. Masalahnya, setelah dibolongin lantas digimanain?

Terpaksa cari muter-muter di internet, nemu deh tentang CanonĀ® Orginal Cartridge Refilling Instructions PG-37, 40, 41 (Black); CL-38, 50, 51 (Colour); CL-52 (Photo) Refilling Instructions.

Ini sebenarnya tugas kuliah saya. Agak maksa sih, cuman kayaknya lucu aja kalo saya taruh di sini.

Regulasi, percepatan teknologi, dan konvergensi, menjadi faktor eksternal yang memaksa Telkom untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi gelombang perubahan yang tidak terduga. Sejarah panjang Telkom tidak menjamin kesiapan organisasi dalam menghadapi perubahan, justru pembenahan masih terus dilakukan sepanjang tahun 2000-an.

Dengan caranya sendiri, Telkom telah mengimplementasikan beberapa prinsip Raynor dalam mengelola strategy paradox melalui strategic flexibility. Di antaranya melalui pembentukan Corporate Transformation Group dan War Room, serta diversifikasi portofolio bisnis. Struktur organisasi Telkom cukup dapat mendukung scenario planning, dan diversifikasi portofolio dapat menjadi landasan pada saat mengambil keputusan real option.

Secara de facto, Telkom telah mempersiapkan diri dalam mengelola strategy paradox. Mereka telah menyesuaikan organisasinya agar lebih fleksibel, mendelegasikan wewenang agar keputusan strategis dapat diambil di berbagai level, dan menyiapkan portofolio bisnis sebagai bentuk real option yang pada saatnya nanti akan dieksekusi untuk dilanjutkan, ditunda, atau dihentikan.

Sebelumnya, mari kita klarifikasi dulu. Tulisan ini tidak bermaksud provokatif atau oposan, sekadar menyuarakan kepusingan diri. Kemudian, yang saya maksud kapitalisasi di judul ini adalah kapitalisasi dalam arti penambahan nilai aset tetap.

Kapitalisasi atas penambahan nilai aset tetap bisa berasal dari berbagai sebab. Musabab terutama tentu saja perbaikan, rehabilitasi, dan perawatan. Seringkali nilai rehabilitasi memang cukup besar, apalagi jika dilihat betapa SD Inpres yang didirikan tahun 80-an baru direhabilitasi setelah 20 tahun kemudian.

Sebagaimana dalam akuntansi komersial, penambahan nilai itu dimasukkan sebagai penambah nilai aset tetap. Namun dalam prakteknya hal ini menambah keruwetan bagi pelaksana pencatatan di lapangan. Mereka harus memastikan, aset yang mana yang diperbaiki. Gedung sekolah yang mana, nampaknya tidak terlalu sulit – meski dalam kenyataannya itu cukup membuat mimpi buruk. Kontrak rehabilitasi tidak menyebutkan nomor register gedung yang akan diperbaiki, paling maksimal hanya alamat saja. Bagaimana jika di alamat itu ada dua gedung terpisah? Bagaimana mengetahui, gedung yang mana yang direhabilitasi?

Bagi saya, yang aneh, dalam akuntansi pemerintahan, penyusutan nilai aset masih bersifat opsional – sah saja jika tidak ada penyusutan. Jadi aset yang direhabilitasi berkali-kali, akan semakin tinggi nilainya, tidak pernah turun. Bayangkan akumulasi nilai kapitalisasi saluran comberan di pinggir jalan, setelah 50 tahun ke depan. Tentu saja ini tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Keanehan lain, pada saat pelepasan hak atas aset, dijual misalnya, tidak ada pengakuan untung-rugi. Jadi buat apa mencatat kapitalisasi? Apalagi dalam prosedur pelepasan itu, dilakukan penilaian kembali atas aset. Buat apa repot mencatat kapitalisasi, toh pada akhirnya yang digunakan adalah nilai hasil appraisal?

Rasanya ada ketidakadilan di sini. Kadang-kadang saya berharap kapitalisasi ini adalah opsional, seperti halnya penyusutan.

Kabinet Artis

Gara-gara kabar Ahmad Dhani mau dicalonin jadi wakil presiden di republik yang saya cintai ini, otak kotor saya jadi bermimpi yang bukan-bukan. Saya diminta membantu menyusun kabinet yang personilnya disusun dari artis-artis negeri ini!

Dalam mimpi saya, telah terpilih sebagai presiden-nya Dedy Mizwar dan wapres-nya Ahmad Dhani. Berhubung pemilu menghabiskan waktu hingga 3 putaran, sedangkan jangka waktu mimpi saya hanya 4 jam (saya selalu telat tidur dan bangun kepagian), saya hanya punya waktu beberapa menit untuk segera mulai mengusulkan sebagian kabinet mendatang.

Sebagai menteri kesehatan, tentu saya ngga punya pilihan selain Lula Kamal. Meskipun sepertinya ibu dokter satu ini tidak berpengalaman tugas di pedalaman, cuma nama ini yang terpikir oleh saya. Pertama karena wajah manisnya yang sudah lama tidak tampil lagi, dan kedua karena namanya yang mirip dengan Titi Kamal – meski mereka bukan saudara.

Titi Kamal sendiri saya nominasikan untuk memimpin kementrian pemberdayaan wanita, berkat peranannya sebagai TKW di sinetron Muslimah. Penghayatannya dalam sinetron stripping jangka panjang itu saya rasa cukup sebagai bekal dalam jabatan tersebut.

Kementerian perencanaan, tentu hanya satu pilihan saya, yaitu Dedy Corbuzier. Terbukti bapak ini sudah berhasil memprediksi berbagai hal dengan tepat, jadi boleh dong saya berharap perencanaan yang didasarkan pada prediksinya akan lebih akurat.

Lantas, di jajaran penegakan hukum, pilihan tertuju Rommy Rafael. Kalau perlu mengungkap kebenaran, tinggal dihipnotis aja tuh para tersangka. Dijamin deh mereka bakal menceritakan semuanya, jujur tanpa ditutup-tutupi.

Menteri pertahanan saya serahkan pada Dewi Persik. Eits, tunggu dulu, ibu satu ini punya energi yang berlebih dalam hal mempertahankan pendapat. Lepas dari soal benar atau salah, yang penting dia berapi-api mempertahankan pendapatnya, maka cocok lah didudukkan sebagai menteri pertahanan. Saya yakin dia mampu menjalankan prinsip ‘right or wrong it’s my country’ dan ‘maju tak gentar’.

Kementrian komunikasi dan informasi saya suruh Roy Suryo yang mengurusnya. Prioritas identifikasi pornografi dan pornoaksi adalah program utamanya. Tentu dengan kapabilitasnya sebagai pakar telematika dan konsultan multimedia tugas ini akan mulus dituntaskannya.

Untuk urusan agama, saya akan serahkan pada Opick. Masa lalunya sebagai rocker yang kemudian beralih ke jalur religi, nampak menjanjikan. Setidaknya tiap hari para pemirsa bisa dibangunkan dengan nyanyian penyejuk jiwa, dan jika sudah mulai ngantuk, dihantarkan dengan musik pengobat hati.

Sedangkan untuk urusan luar negeri, saya nominasikan Cinta Laura. Secara bahasa Indonesia-nya sudah bernuansa Inggris, ngga perlu lah tes TOEFL segala. Ngga bakal gelagepan kalau disuruh keliling dunia – apalagi kalau cuman dibandingin sama si ‘Agus’.

Menteri Olahraga akan saya serahkan pada Dick Doang. Sebagai penggila bola, punya lapangan bola sendiri di rumah, pernah satu slot iklan dengan Del Pierro, saya yakin dia akan mampu meyakinkan dunia untuk memilih Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Kementerian pendidikan adalah pilihan tersulit saya. Sampai saya terbangun dari mimpi, belum juga ketemu siapa yang paling pas di antara Ria Enes atau boneka Susan-nya ….

Sayang, saya tidak punya kebiasaan melanjutkan mimpi sehingga kabinet artis ini mungkin tidak akan pernah dilengkapi apalagi diperjuangkan.

Disclaimer : Ilustrasi di atas hanyalah mimpi. Kesamaan nama, alamat, tempat dan tanggal lahir, sekedar impian semata.

Tulisan Sebelumnya »