Minggu kemarin, kami menghadiri walimatul ‘ursy seorang teman lama. Di luar masalah bahasa Jawa yang agak terlalu jadul, materi yang disampaikan saat ceramah nasihat pernikahan cukup menarik. Beliau berkisah tentang tipe-tipe rumah tangga.
Pertama, rumah tangga kuburan. Seperti kita tahu, tempat itu umumnya sepi, senyap. Tidak ada komunikasi di antara para penghuninya. Rumah tangga semacam ini rawan keberlangsungan hidupnya.
Kedua, rumah tangga bertipe rumah sakit. Meski saya tidak sepenuhnya setuju, sang penceramah bercerita mengenai betapa tiap pihak mengedepankan jasa masing-masing. Dokter menyatakan karena jasanya lah sang pasien mendapat obat yang tepat, sementara perawat menyatakan karena jasanya lah sang pasien mendapat perawatan 24 jam, sedangkan pasien bilang karena dia lah para dokter dan perawat bisa memperoleh penghasilan. Rumah tangga semacam ini cenderung saling mengutamakan kepentingan masing-masing.
Yang bagus, menurutnya, adalah rumah tangga tipe sekolahan. Di sana ada semangat saling asah, saling asuh, saling asih. Tentu saja dalam kondisi ideal, tanpa ada bullying di dalamnya!

untung ndak ada rumah tangga bertipe pasar…
hanin: lho, bukannya malah asyik, jadi serba ada gitu…
gak tega ngebayangin yang rumah tangganya bertipe sidang
hanin: lha terdakwa nya in-absentia kok, tenang aja bro
“sedangkan pasien bilang karena dia lah para dokter dan perawat bisa memperoleh penghasilan” wah belum tentu boss si pasien bisa bilang gitu apa situ tahu kalau yg di maksud si pembawa ceramah tsb adalah pasien rumah sakit jiwa?…
hanin: hihihi… pengalaman pribadi di rumah sakit jiwa jangan dibawa-bawa deh!