Semua bisnis, aktivitas utamanya adalah menciptakan dan mempertahankan value.
Salah satu dasar teori yang banyak dikenal dan dianut adalah Resource-Based-View (RBV). Teori ini menyatakan bahwa resource adalah pemicu penciptaan value melalui competitive advantage yang dimiliki oleh resource tersebut. RBV mendasarkan pada pernyataan David Ricardo bahwa keunggulan faktor produksi menciptakan keunggulan bersaing bagi pemiliknya.
Namun RBV dirasa masih terlalu sederhana dalam menarik hubungan antara resource yang dimiliki dengan strategi perusahaan. Bagaimana resource tersebut diakumulasi, dikombinasikan, dan dieksploitasi; kurang dijelaskan. Suatu resource hanya akan memiliki value dalam kondisi stabil, sedangkan kenyataan tidak demikian; lingkungan selalu berubah dan penuh dengan uncertainty.
Trio peneliti (Sirmon, Hitt, & Ireland) mengemukakan proposisi mulai dari perolehan resource (bahwa dalam kondisi uncertainty, resource dalam real option lebih berguna, dan divestasi dapat merugikan; internal development lebih disukai dalam kondisi low munificence). Mereka juga menuliskan proposisi mengenai bundling resources (enriching capability diperlukan untuk membangun optimum value; pioneering capability untuk membangun source of value baru; dan stabilisasi proses justru tidak menghasilkan apa-apa). Di sisi leveraging pun dikupas (konfigurasi capability tidak dapat berdiri sendiri; efektivitas coordinating dan deploying tergantung kemampuan manajemen; dan berbagai strategi menghadapi uncertainty).
Paparan ini masih memerlukan pengujian empiris terhadap berbagai proposisi yang telah diajukan. Selain itu, masih perlu didalami bagaimana struktur portfolio resource, bundling resources menjadi capabillity, dan formulasi strategi leveraging secara efektif.

aduh udah baca tiga kali kok ndak mudeng..
hanin: lha saya aja yang nulis gak mudeng kok!