Revaluasi Mudik

Meskipun ngga termasuk dalam jajaran mahluk malang yang terjebak histeria mudik, kemarin kita mudik juga ke Purwokerto. Lebaran tanggal 14-15, tapi kita mudik tanggal 4 sampai 24. Nyaris sebulan, dan jelas puas serta ngga kena macet.
Sambil jalan, kita mikir-mikir: kira-kira apa ya yang dimaknai oleh anak-anak kecil itu saat lebaran?

Dulu, kita punya kegembiraan baju baru. Sekarang, anak mana yang tidak tiap bulan beli baju? Dulu, kita menelan ludah membayangkan opor ayam atau acar gurami. Sekarang, siapa yang tidak setiap minggu ke KFC? Dulu, setelah agak remaja, kita sibuk kirim-kiriman kartu. Sekarang, udah tiap hari nelpon, tiap jam SMS!

Mudik pun, dulu, ke rumah kakek dan nenek, merupakan pengalaman menyenangkan. Di desa di kaki gunung, hawanya sejuk, banyak buah-buahan… Sekarang? Desa itu memang masih di kaki gunung, tapi hawa sejuknya sudah banyak berkurang, mulai banyak kendaraan bermotor sehingga bising dan polusi sudah menodai. Buah? Terus terang buah di supermarket lebih bagus kualitasnya. Ngga pakai resiko jatuh pula waktu memetiknya – dan selalu segar karena ada kulkas.

Dulu di desa belum ada listrik, sehingga menonton paman memompa petromaks adalah keasyikan tersendiri menjelang malam. Juga berlarian di antara pohon di bawah bulan purnama, sungguh seperti jadi batman di komik. Tapi, sekarang di desa kakek nenek sudah ada listrik, sama saja seperti di rumah. Sinar purnama sudah kalah oleh lampu-lampu neon. Lari-lari di bawah pohon? Ah, pohonnya sudah punah jadi rumah beton. Lagipula sudah terlanjur sayang meninggalkan serial sinetron di televisi, yang dari jam ke jam itu ada terus.

Jadi? Barangkali, anak-anak kecil itu memaknai lebaran dan mudik sebagai sekedar berkumpul dengan sepupu-sepupu. Atau, lebih parah lagi, lebaran dengan mudik dianggap menyebalkan karena kemacetan luar biasa sepanjang jalan.

Tidak ada lagi kenangan masa kecil yang haus terulang kembali. Masa kecil mereka habis di kota, bukan lagi di desa. Ke desa pun tidak ada lagi hal spesial, nyaris semuanya sama dengan keseharian di kota – bahkan mungkin lebih menyenangkan di kota. Apalagi jika di kota itu saudara-saudara sudah ngumpul semua.

Berkat program KB, sudah lazim keluarga muda cuma punya 3-4 orang anak. Generasi berikutnya juga demikian. Jadi generasi si cucu ini nggak akan merasa kehilangan jika harus tidak mudik. Toh keluarganya nggak ada di kampung, sudah merantau semua. Lebih parah lagi jika merantau di satu kota – Jakarta misalnya. Wah, bisa tiap minggu ketemu, jalan bareng ke Dufan.

Jangan-jangan, nanti setelah kakek dan nenek tiada, anak-anak yang mulai dewasa itu enggan diajak mudik. Ngapain cari susah lebaran di desa segala, kan sama saja dengan lebaran di kota?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s