Ibu Kantoran vs Ibu Rumah Tangga

Baiklah, bukan bundel itu yang mengusik perhatian saya. Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini jarang sekali ada tulisan mengenai ibu rumah tangga!

Hampir semua majalah dan tabloid di depan saya ini punya kolom khusus membahas karir, lengkap dengan tips mengatasi masalah di tempat kerja, tips meraih jenjang karir yang lebih tinggi dan bahkan membahas pula mengenai busana, aksesoris dan make up untuk ke kantor. Namun tidak ada rubrik yang khusus membahas masalah ibu rumah tangga. Kalaupun ada, tidak lebih dari perawatan anak, atau resep masakan. Sepertinya topik itu kurang menarik untuk ditulis. Apa yang salah dengan status ibu rumah tangga?

Saya tidak yakin pembaca majalah dan tabloid itu hanya wanita karir. Oke, para wanita karir memang memiliki kelebihan finansial sehingga dapat membeli berbagai bacaan yang lumayan mahal (apalagi terbit tiap minggu). Tapi apa mereka benar-benar punya waktu untuk membacanya?

Lagipula, itu bukan berarti para ibu rumah tangga tidak memiliki suami yang mampu membelikan mereka berbagai majalah dan tabloid itu bukan?

Seharusnya artikel-artikel kehidupan sehari-hari di rumah lebih sering dimuat. Misalnya:
– mengatasi kejenuhan di rumah ketika menunggu suami dan anak-anak pulang
– memilih dan memperlakukan pembantu rumah tangga
– mendamaikan pembantu dengan anak
– mengorganisir pekerjaan di rumah
– mengelola gaji suami yang pas pasan

Menjadi ibu rumah tangga memang kadang kala bukan merupakan suatu pilihan. Sebagaimana yang saya alami, karena pindah ke kota lain mengikuti suami yang pindah tugas, saya terpaksa meninggalkan pekerjaan lama saya. Di tempat baru ini saya harus mencari pekerjaan baru, yang terasa lebih sulit, karena semua lowongan kerja mensyaratkan status belum menikah dan usia yang masih muda.

Toh setelah dipikir-pikir, ada hal-hal lain yang jauh lebih berarti dari sekedar seragam kantor dan jam kerja tujuh jam sehari itu.

Coba hitung secara finansial, berapa sih yang bisa kita dapat dari kerja kantoran. Di Jambi sini tingkat gaji untuk S-1 entry level sekitar 600ribu saja. Dengan gaji segitu, saya harus membayar ongkos transpor (dua ribu sehari naik angkot, sebulan berarti 50ribu), belanja pakaian-aksesoris-kosmetika (Pakaian kantor tentu tidak bisa dipakai untuk sehari-hari. Jika sebulan hanya sekali belanja pakaian blaser dan sedikit aksesori, pengeluaran ini bisa 200ribu sebulan). Ditambah lagi saya harus sewa pembantu untuk memasak, mencuci dan membersihkan rumah yang sebulan tidak kurang dari 200ribu (tega ya mempekerjakan orang di bawah UMR). Jika siang hari saya harus makan di kantor, saya mengeluarkan lagi biaya 125rb untuk nasi bungkus seharga 5rb sekali makan.

Lihat, penghasilan tambahan bersih yang saya terima tidak lebih dari 25ribu rupiah!

Belum lagi hal-hal yang tidak ternilai yang saya lewatkan. Suami saya pulang kerja disambut pembantu. Air minum suami disediakan pembantu. Pakaian suami dicuci dan disetrika pembantu. Anak-anak seharian diurusi pembantu. (Well, jika malam hari pun saya tidur kelelahan, bisa jadi suami saya selingkuh dengan pembantu!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s