Berapa Tahun Lagi Kita Harus Merdeka?

Sekarang, kita sudah bisa sedikit bersombong diri menjadi bangsa yang setara dengan Jepang, bangsa yang pernah menjajah kita. Setidaknya, kini kita bisa memakai produk elektronik merk Sony, naik mobil dengan merk Toyota, dan sesekali makan di Hoka Hoka Bento.
Ya, kita masih pakai produk-produk dengan merk Jepang!

Kita juga sudah bisa berbangga diri menjadi salah satu bangsa dengan penduduk terbanyak.
Jadi, dengan penduduk sebanyak itu, ditambah lagi dengan kondisi geografis berupa kepulauan, sangat wajar jika pertumbuhan ekonomi kita jauh di bawah Singapura – yang sempit dan ngga ada orangnya itu. Atau bahkan jika dibandingkan dengan Cina, karena meskipun mereka penduduknya banyak, tapi geografisnya bukan kepulauan.

Dengan alasan yang sama, kita juga bisa memaklumi kalau bangsa ini menjadi langganan lima besar kompetisi koruptor se-dunia. Itupun sebenarnya tidak terlalu hebat, toh jika dirata-rata, tingkat ‘korupsi per kapita’ di Indonesia tidak terlalu tinggi.

Masih dengan dalih yang itu-itu juga, kita bisa bilang sangat susah mencari atlet di pelosok negeri, sehingga kita tidak pernah mendapat lebih dari lima medali emas di Olimpiade.

Tapi dengan penduduk yang banyak, kita sudah juga mengukir prestasi sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Dalam hal ini Amerika harus banyak belajar dari Indonesia. Betapa seorang wanita bisa menjadi presiden, seorang yang cacat fisik bisa menjadi presiden, seorang dengan kelainan seksual bisa menjadi menteri, seorang dengan ijazah asli-tapi-palsu bisa menjadi anggota legislatif…

Sebagai negara hukum, aparat kita rasanya cukup akomodatif.
Seorang yang telah terpilih oleh ribuan orang sebagai walikota dalam pemilihan langsung, bisa digagalkan di ruang sidang oleh segelintir hakim, demi memenuhi tuntutan pihak yang kalah.
Di tempat lain, masyarakat pendukung calon yang kalah boleh berdemo sepuasnya, dan penyelenggara pemilihan kepala daerah akan memenuhi tuntutan mereka.
Penegak hukum juga berbaik hati mepersilakan pedagang VCD bajakan berjualan di samping kantornya, demi alasan kemanusiaan karena kurangnya lapangan kerja dan mahalnya keping VCD asli.

Kebebasan pers sekarang juga tidak tanggung-tanggung. Indonesia rasanya sudah sangat liberal dalam hal ini.
Masih ingat, ada seorang artis yang baru siuman dari pingsan setelah diceraikan suaminya, langsung menjadi sasaran wawancara infotainment.
Tabloid ‘bikini-style’ sudah banyak terbit secara resmi, dengan harga tidak lebih mahal dari dua mangkok bakso, dan dipajang terbuka di kios-kios fotokopi di sebelah sekolah SMP.

Omong-omong soal sekolahan, sekarang makin mahal saja pendidikan di negri ini. SPP sih gratis, tapi buku-buku mahalnya minta ampun. Rupanya kita tidak bisa lepas dari ajaran nenek moyang: ‘jer basuki mawa bea’ (kalo mau pinter ya bayar).
Di tingkat ekstrim, kita sekarang bahkan tidak perlu susah-payah kuliah kalau hanya untuk sekedar mendapat selembar ijazah S1 atau S2. Cukup dengan sekian puluh lembar uang pecahan seratus ribuan, ijazah instan yang laku-walau-palsu sudah di tangan.

Well, setidaknya setiap tujuhbelasan kita sudah boleh balap karung, panjat pinang, sepakbola dangdut, dan tarik tambang.
Apa ini bukan merdeka namanya?

One thought on “Berapa Tahun Lagi Kita Harus Merdeka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s