Tiada Maaf Bagimu (renungan lebaran)

Pernah mencoba menghitung berapa kali minta maaf? Ingat nggak kemarin sebelum puasa sibuk kirim SMS ke sana ke mari minta maaf. Nanti lebaran SMS lagi minta maaf (ehm, kasihan ya PT Pos jadi kurang pemasukan dari kartu lebaran). Belum lagi di kehidupan sehari-hari, yang entah sengaja atau tidak kita menyakiti orang lain, lalu entah dengan ikhlas (karena sekedar nginjak kaki orang di bis) atau yang dengan terpaksa (karena yang dijahatin adalah musuh besar) kita minta maaf.

Dan pernahkah terpikir bahwa jauh lebih mudah MINTA maaf daripada MEMBERI maaf?

Untuk minta maaf sebenarnya hanya dibutuhkan kerelaan untuk membuang kesombongan sesaat saja. Ya, bayangin, minta maaf pada musuh besar, tentu perlu kerendahan diri untuk mengakui diri bersalah. Tapi itu toh cuman beberapa menit. Begitu kita dimaafkan, masalah selesai, kita lupakan semuanya (seolah-olah kita tidak pernah bersalah)– toh sudah dimaafkan. Kali lain, jika ada pihak yang menyinggung masalah itu, dengan gampang (dan tanpa merasa bersalah) kita bisa bilang bahwa kita sudah minta maaf. Seolah-olah dengan permintaan maaf itu, segala-galanya selesai begitu saja. Gampang kan.

Tapi bagaimana dengan sisi memberi maaf? Memang, seseorang yang datang kepada saya dan mengaku bersalah, pasti saya maafkan. Well, Tuhan aja maha pemaaf, masa saya yang tiap hari minta ampun pada-Nya tidak mau memaafkan manusia lain?

Setelah itu, tentu saja, saya menganggap masalah itu selesai. Perhatikan ada kata ‘menganggap’ di sini. Jadi, sebenarnya masalah itu tidak betul-betul selesai. Entah di bagian mana di otak atau hati saya, masih tersimpan betapa orang ini pernah bermasalah dengan saya.

Suatu saat nanti, entah sekian bulan atau tahun, jika kebetulan saya terbentur masalah lagi dengan orang ini, pasti saya akan teringat kembali dengan masalah yang pernah terjadi di antara kami. Dalam beberapa kasus, saya bisa mengingat dengan sangat detail. Dan, celakanya, ingatan itu amat mempengaruhi cara saya menyikapi benturan baru dengan orang ini. Padahal, sangat mungkin dia sudah melupakan masalah yang dulu itu — sebagaimana saya melupakan kesalahan yang saya buat kepadanya.

Jadi rupanya saya tidak pernah benar-benar memaafkan seseorang, meski sebenarnya saya merasa diri saya bukan pendendam. Forgiven, but not forgotten.

Rasanya memang lebih baik tidak usah berbuat salah. Jadi orang lain tidak perlu memaafkan saya, padahal sebenarnya tidak sepenuhnya memaafkan. Baiklah, saya berjanji akan berusaha untuk tidak berbuat salah pada siapapun.

Tentu saja, saya tidak bisa menjanjikan seberapa keras usaha saya nanti…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s