Mengapa harus dinamakan toko buku?

Sebagai seorang yang suka baca, dari komik sampai novel, dari fiksi sampai filsafat, dari biografi sampai pornoaksi 🙂 maka yang pertama saya cari ketika sampai di Jambi adalah: Toko Buku. Well, sebetulnya sih waktu datang itu nyari toko buku cuman mau nyari pulpen… masa ke kantor ngga punya pulpen.

Setelah tanya kanan-kiri, disarankan pergi ke toko buku Trophi. Letaknya di pasar (FYI, di Jambi ini pusat pertokoan disebut ‘pasar’). Karena belum tahu arah, saya tanya lagi, tokonya besar nggak, gampang nyarinya nggak, keliatan nggak dari jalan kalo lagi lewat… Dijawab dengan tegas: besar, tiga lantai, semua orang juga tahu!

Maka, pergilah saya ke sana. Betul juga, toko ini gedungnya besar, tiga lantai – ngalah-ngalahin Gramedia aja. Cuman, begitu masuk… walah! Kok sambutan pertama counter kosmetik, lalu sabun, lalu obat nyamuk… Mana dia bukunya? Lantai satu ternyata swalayan!

Jadi naiklah saya ke lantai dua. Seru juga di situ, ada berbagai pernak-pernik. Jam dinding, poster, bunga… ada juga alat-alat olahraga dan mainan anak. Buku-buku? Menempati setengah dari seluruh luas lantai dua. Mungkin ada di lantai tiga? Ah, rupanya tidak… karena lantai tiga isinya barang-barang rumah tangga, macam panci, rice cooker, penggorengan, dan bahkan ember.

Balik lagi ke lantai dua, lumayan lah, setidaknya ada buku yang bisa dipilih – meski keseluruhan hanya seluas seperenam gedung toko. Saya menemukan buku lama, yaitu Norma Pemeriksaan Akuntan. Sebuah buku berwarna kuning yang sudah tidak berlaku lagi. Harganya, setara dengan buku baru lainnya dengan ketebalan yang sama: 20 ribu rupiah. Astaga. Buku zaman rikiplik begini masih dijual harga bandrol? Makin banyak saya lihat, makin banyak ketemu modus yang sama: buku lama harga baru. Well, ada juga sih buku baru yang benar-benar baru dengan harga sedikit di atas harga Jakarta.

Baiklah. Itu baru satu toko buku. Bagaimana dengan toko buku lain? Setidaknya saya cari toko buku yang jual majalah juga! Satu bulan kemudian saya ketemu toko lain, namanya toko Gloria. Yang ini agak lebih beradab, meskipun hanya dua lantai, tapi lantai dua seluruhnya untuk buku. Lantai satu berisi stationery dan mini market (lumayan, pulangnya beli mie instan). Sayang sekali penataannya ngga karuan, disusun per penerbit tapi ngga dikelompokkan menurut topik. Jadi kita bisa nemu buku resep di sebelah buku komputer, atau buku ramalan di atas buku hadits. Dan, saya ngga betah di situ karena debunya ruarrr biasa.

Satu tahun berlalu, sebuah mall dibuka di Jambi. Ada toko buku grup Gramedia di sini, namanya Bursa Buku. Sayang cuman bertahan enam bulan. Tutup, sepertinya diakuisisi oleh grup lokal, jadi Kurnia Agung. Modus operandinya agak beradab: setengah gedung dipakai display buku, setengah lagi untuk stationery (alat tulis kantor).

Yang lucu, buku-buku yang dilengkapi CD, CD-nya dikeluarin dari buku. Jadi pas kita bayar ke kasir, diobrak-abrik lah koleksi CD itu, baru dikasih ke kita. Hilang? Ya, tentu saja ada kemungkinan CD itu hilang… dan saya mengalaminya. Saya beli buku Foxpro, dan setelah menunggu setengah jam, ternyata CD ngga ketemu. Well, mereka dengan baik hati menerima pembatalan saya beli buku, tapi keselnya tuh nungguin ngga ada hasil.

Baru-baru ini dibuka satu mall baru, dan satu toko buku lagi dibuka. Namun penyakitnya tetap sama: hanya sepertiga dari seluruh lantai yang digunakan display buku. Sisanya, pernak-pernik, pulpen, map, dan sejenisnya. Terakhir saya beli buku Xandros OCE terpaksa lewat internet!

Jangan tanya lagi soal buku bekas. Sejauh ini saya baru menemukan satu warung majalah expired. Lumayan kalo cuma untuk beli majalah resep, kan ngga ngaruh tuh resep setahun lalu dengan sekarang sama saja. Takarannya juga ngga berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s