Hapuskan Ujian Akhir Nasional!

Hari panas terik, namun semangat ribuan demonstran tidak surut. Mereka berbaris rapi, memenuhi halaman gedung wakil rakyat. Rapi, tentu saja, karena kali ini yang berdemonstrasi adalah para pelajar. Dan karena rapi pula mereka mendapat perlakuan khusus sehingga boleh masuk ke halaman wakil rakyat, daripada berjubel di jalanan bikin macet. Menurut aparat keamanan, hal itu juga mencegah para pelajar nggodain pengguna jalan yang lewat (dan sebaliknya).

Spanduk-spanduk yang dibentangkan berupa graffiti centil terbuat dari piloks warna-wani. Tapi isu yang diusung kali ini bukan main-main: menuntut penghapusan pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN).

Tentu saja ini menarik. Meski sejauh ini belum ada wakil rakyat yang datang menemui mereka, toh para pelajar ini tidak putus asa. Di sela-sela orasi yang puitis, nyanyi-nyanyi lagu hits, dan diselingi pentas teater plesetan, saya berkesempatan wawancara dengan salah seorang koordinator lapangan.

Tanya (T): Kalian demo ini mewakili siapa?
Jawab (J): Mewakili seluruh pelajar di Indonesia. Hasil polling yang diadakan melalui SMS, ternyata UAN harus dieliminasi.

(T): Apa alasannya UAN harus dihapus?
(J): Banyak Mas. Pertama, UAN itu mahal. Bayangkan berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk sekali penyelenggaraan UAN. Kan lebih baik dana itu dipakai untuk pengentasan kemiskinan?
(T): Kamu pernah dengar pepatah lama: ‘Jer basuki mawa bea’ – Mau pintar itu mahal? Investasi di bidang pendidikan emang mahal dan return-nya lama, bisa sampai satu generasi.
(J): Seperti yang Mas bilang, itu kan pepatah lama. Kita hidup di masa kini Mas!

(T): Halah! Jadi apa lagi alasan lainnya?
(J): Begini Mas, sekarang ini kan pendidikan belum merata. Di daerah tertentu belum siap melaksanakan UAN. Jadi kasihan kan temen-temen di pedalaman Papua misalnya, yang sekolahnya belum tentu ada gurunya itu.
(T): Betul, jadi kira-kira kapan siapnya?
(J): Nanti, kalo guru-guru udah pada bersertifikat semua. Yang suruh UAN gurunya dulu dong Mas, baru muridnya. Kalo gurunya aja ngga bisa jawab soal UAN, gimana muridnya?
(T): Lha selama nunggu guru siap, murid-murid ngapain?
(J): Libur. Pengumuman: guru-guru UAN, murid belajar di rumah (senyum).

(T): Ada alasan lain?
(J): Ya. Standar kelulusannya terlalu tinggi.
(T): Lha bukannya dari dulu kelulusan minimal nilainya enam?
(J): Iya, tapi kan bukan cuman tiga mata pelajaran yang di-UAN-kan!
(T): Maksudnya? Semua pelajaran harus masuk UAN gitu? Ngga cukup yang tiga itu doang?
(J): Ah… Mas ini ngga nyambung deh. Tulalit!

(T): Hehehe, lantas apa lagi?
(J): UAN terbukti meningkatkan stres Mas. Bayangkan berapa juta orangtua yang jantungan gara-gara takut anaknya ngga lulus UAN.
(T): Itu hasil polling juga?
(J): Iya lah. Kita kan pelajar, jadi ilmiah dong.

(T): Sip. Ada lagi?
(J): UAN ini ngga sejalan dengan program hemat energi.
(T): Eits, apa hubungannya?
(J): Silakan dihitung, berapa juta anak yang belajar untuk UAN. Waktu belajar efektif adalah malam menjelang ujian, dari jam 7-10 malam – karena kalau kemalaman kan ngantuk. Padahal jam segitu lagi waktu beban puncak PLN. Masa kita belajar ngga pake lampu?
(T): Paling bisa deh lo!

Karena terlihat ada rombongan lain yang datang untuk bergabung dengan demonstrasi ini, sang koordinator lapangan yang saya wawancarai harus menemui untuk berkoordinasi. Maka wawancara pun berakhir. Dari jauh, kelihatan poster-poster yang tidak kalah menarik.

Salah satunya dibuat berukuran raksasa, isinya keren: “UAN No – Nyontek Yes”. Waduh!

Cerita ini hanya imajinatif semata. Kesamaan tempat, nama, istilah dan kejadian hanya kebetulan semata yang disengaja supaya bombastis.

2 thoughts on “Hapuskan Ujian Akhir Nasional!

  1. Wah, UAN sangat perlu, cuma soal dan pelaksanannya dilokalize…bukan national dong namanya yach hehehhehhe…..

    Masalahnya…dimanapun harus dipilah mana orang bisa matematika mana tidak…..mana bisa fisika mana tida, mana bisa bahasa inggris mana tidak, jangan sampai gelarnya insyinyur tapi gak bisa itung-itungan kan berabeh????? atau lainnya

    hehehhe, salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s