Miss Communication: Nadine Chandrawinata

Hiks. Sedihnya jadi Nadine. Tapi kegagalannya sih sudah diperkirakan sejak lama. Tepatnya, ketika Nadine menyebut Indonesia sebagai sebuah ‘city’.

Ya, Indonesia ini adalah sebuah kota bagi Nadine. Ah, mungkin dia cuma salah ucap, atau grogi. Eits, Putri Indonesia grogi? Atau… TOEFL-nya kurang mantap barangkali. Lalu kenapa ngga pake bahasa Indonesia aja seh. Toh Miss Universe dari Puerto Rico juga ngga pake bahasa Inggris kok.

Artika Sari Dewi, Putri Indonesia sebelumnya, menganggap ‘kesalahan kecil ini terlalu dibesar-besarkan’. Well, seorang yang tidak bisa membedakan kota (city) dengan negara (country) memang tidak sepantasnya menjadi Miss Universe.
Butet Kertaradjasa, dalam acara Om Farhan, memberi gelar Miss Communication pada Nadine, karena mis-komunikasi yang dilakukannya.

Tapi menurut saya yang perlu diberi mis-komunikasi award adalah juga media massa yang meliputnya. Coba bandingkan liputan Nadine dibanding dengan liputan tim olimpiade fisika, biologi, atau bahkan matematika.

Liputan Nadine jelas lebih gegap gempita. Malam finalnya disiarkan oleh Indosiar. Infotainment sibuk memberitakannya. Bahkan koran lokal pun memasang feature kedatangan keluarga Nadine ke AS di halaman depan. Juga betapa kecewanya Nadine sampai nyaris tidak menghadiri acara jamuan malam penghormatan pemenang.
Padahal, Nadine tidak memenangkan apa-apa!

Di sisi lain, tim olimpiade fisika, setelah lima tahun berturut-turut memenangkan berbagai kategori dan medali, tidak pernah digembar-gemborkan persiapan ataupun keberangkatannya. Boro-boro ada siaran pertandingannya. Ada yang tahu pertandingan macam apa olimpiade fisika itu?

Lebih tragis lagi tim olimpiade matematika. Tidak pernah kedengaran kapan akan berlangsungnya, di mana, bagaimana rekrutmennya, atau persiapannya. Baru jadi berita setelah tim ini gagal berangkat – karena terlambat mengurus visa!
Itu pun, bukan mengangkat apa dan bagaimana tim matematika ini. Lebih ditujukan untuk menyalahkan pejabat di Depdiknas yang dituduh menelantarkan mereka…

Ternyata, wajah cantik Nadine (beauty) lebih menjual daripada kepandaian (brain) tim olimpiade fisika. Pun juga keteledoran (behavior) pejabat Depdiknas dibandingkan kepandaian (brain) tim matematika.

Dan, Nadine, sebagai Putri Indonesia, lebih menang di tampang (beauty), bukan dari kemampuan (brain) berkomunikasinya, apalagi keengganannya untuk hadir (behavior) dalam acara penghormatan pemenang Miss Universe.
Jauh dari 3B yang selalu digembar-gemborkan Yayasan Putri Indonesia!

2 thoughts on “Miss Communication: Nadine Chandrawinata

  1. Itulah potret sebagian bangsa Indonesia, yang mengedepankan pamer tubuh perempuan yang jelas dilarang oleh agama (Islam) ketimbang olimpiade matematika atau fisika, kapan mutu pendidikan akan meningkat kalau bangsanya bermental seperti itu ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s