Jangan Jadi PNS!

Beberapa hari lalu saya mampir ke blog-nya Mart Siska, di sana ada cerita mengenai judul tadi: jangan jadi PNS.

Persepsi selama ini tentang PNS kira-kira: malas, tidak efisien, korup. Saya sebagai PNS dengan gampang menjelaskan bahwa: itu oknum. Ya, cuma masalahnya bagaimana mengurangi oknum itu? Tentu dengan menyiapkan PNS dari sejak proses rekruitment, masa tugasnya, sampai pensiun.

Untuk menghindari korupsi berjamaah, sebenarnya PNS sudah dibentengi dengan berbagai janji dan sumpah. Ketika diangkat menjadi PNS, masing-masing mengucapkan janji PNS. Setiap kali upacara, ada Sapta Prasetya Korpri. Ketika dilantik menduduki jabatan apapun, ada sumpah jabatan. Ketika menjadi anggota panitia pengadaan, ada Pakta Integritas.
Betul, ada juga yang tidak mengucapkan secara lisan semua janji dan sumpah itu, tapi toh saya dan semua PNS menandatanganinya. Jadi yang melanggar adalah o-k-n-u-m.

Salah satu isu yang sering dijadikan alasan adalah rendahnya penghasilan PNS. Namun belakangan ketika gaji hakim dinaikkan, toh tetap saja ada keluhan mafia peradilan. Ketika universitas negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara, toh yang pertama diurus adalah kenaikan gaji rektor.
Saya pribadi lebih suka jika PNS (dan keluarganya) diberi fasilitas di luar gaji (walau tentu kenaikan gaji tidak ditolak, hehehe). Misalnya, kalau sakit, dia bisa tinggal di ruang rawat kelas satu. Tanpa perlu dibedakan golongan pangkatnya seperti sekarang. Uang sekolah anak-anaknya gratis. Untuk transport ada antar-jemput ke titik perumahan terdekat.
Jadi ngga ada alasan PNS sakit ngga sembuh-sembuh karena malah ketularan pasien sebelah. Atau pulang cepat karena harus nyambi ngojek untuk beli buku anak sekolah. Atau terlambat ke kantor karena ngga kebagian bis kota.

Satu lagi alasan pembenar para koruptor (seperti yang sering kita lihat di film Hollywood tentang polisi korup), adalah jaminan masa pensiun. Memang PNS sudah memiliki Taspen, namun dibanding jaminan lain seperti Jamsostek, hasilnya mengenaskan. Dengan tingkat gaji yang sekarang, PNS hanya memperoleh 70%-nya setelah pensiun. Wong yang 100% aja kurang!
Ditambah lagi kultur birokrasi yang membelit PNS selama bertahun-tahun, membuat kemampuan wirausaha para PNS nol besar. Jadi silakan bayangkan apa yang akan dilakukan para PNS setelah tua renta dengan pensiun seadanya. Tragis.

Maka itu, jangan jadi PNS. Kalau masih nekat masuk PNS (seperti ribuan pendaftar penerimaan CPNS kemarin), harus siap dengan kenyataan rendahnya tingkat penghasilan PNS. Jangan malah niat korupsi!

7 thoughts on “Jangan Jadi PNS!

  1. Sayangnya, o k n u m itu lebih banyak dari pada pegawainya! Kalau mau semua bagus, belum tentu juga ga korup. Kabur dari kantor jam 3, dateng jam 9.30 dengan motto, KALO UDAH TERLAMBAT DATANG JANGAN SAMPE TERLAMBAT PULANG! Apa ga korup tuh…

  2. kenapa terjadi korupsi ? dari dahulu telah ada budaya bahwa seseorang dianggap hebat bila mempunyai kekayaan yg banyak.walaupun didapatkan dengan cara yang tidak halal. Ayah saya pernah mengatakan kpd saya bahwa bukan kekayaan yg membuatnya bangga tetapi perbuatan baik apa yg bisa kamu kasih kpd orang lain. dia lebih bangga bila saya menjadi pedagang asongan tetapi jujur tidak pernah mengambil hak orang lain daripada bila saya menjadi seorang menteri tetapi mengambil hak orang lain.ini yg harus ditanamkan kpd setiap anak di dalam keluarga. dan nasihat ayah saya telah mendarah daging didalam diri saya

  3. mang korupsi paan seh?
    katanya UU (anti??) korupsi, kl ada usaha mpkaya diri melalui cara2 yg melawan hukum yang membuat negara rugi, baru LOWH kita dapat dikatakan dah korup. kalo cuma… (ntar disambung lagi mas mo ngurus cost-sheet dulu, he2X).

    hanin:
    Kalo baru usaha, belum korupsi ya? … mbuh ah, nanya ke KPK aja yok!

  4. kenaikan gaji solusi terbaik ? hm..mm..

    gaji naik –> gaya hidup naik
    gaya hidup naik –> selera naik
    selera naik –> harapan2 ikut naik
    harapan2 udah terlanjur naik –> eh.. ternyata gaji (yg udah naik) udah gak cukup lagi
    gaji gak cukup lagi = bilangnya kecil lagi
    trus teriak2 lagi ke pemerintah, DPR, pake demo segala…
    pemerintah pusing lagi… (kembali ke atas lagi)

    gaji naik –> gaya hidup naik
    (trus…)
    (trus…)

    lingkarannya akan begini terus… selama :
    – keinginan manusianya masih tetap tdk terbatas,
    – pemerintahnya gak mau repot, cara instan aja yg penting gak usah ribut-ribut

    teori gw :
    semakin gaji pns dinaikkan, semakin tinggi seleranya dan akan semakin banyak yg akan dikorupsinya. korupsi itu bukan karena penghasilan kecil tapi lebih karena yg mau dibeli kelewat banyak dan besar tapi gajinya gak cukup. beda dgn sebagian kecil saudara kita yg harus mencuri ayam atau nyolong sendal hanya untuk ditukar dgn makan siang anak2nya.

    korupsi itu mental, mental, dan mental … that’s it. jadi pencarian solusinya seharusnya diarahkan pada memperbaiki mental oknum-oknumnya, bukan malah tambah dikasih duit dengan harapan mentalnya berubah… bullshits!!!

    dan biasanya untuk mengubah sesuatu yg sudah sangat berakar harus dgn cara yg ekstrim (efek jera). yg ketahuan/kedapatan tdk jujur (bukan korupsi saja lho…) berikan sanksi turun pangkat atau pecat. selesai.
    konsistensi penerapan sanksi yg ekstrim pd saatnya nanti akan berujung pada perubahan sikap dan mental (minimal cara pandang oknum tsb) terhadap ‘korupsi’.

    bandingkan dengan teori penerapan syariat islam di aceh!!!

    asumsi :
    regulator dan yudikatornya harus bersih dulu … atau paling tidak ‘dianggap’ lebih/cukup bersih.
    (kayak syariat islam di aceh lah… )

    wassalam

  5. belanja negara di rapbn 2012 untuk belanja pegawai (pns) itu udah 22.6%. dan nilainya paling tinggi dr semua rencana belanja negara lain(subsidi,pendidikan,pembangunan).. masih mau minta nambah lagi? itulah, di negara kita terlalu banyak pns.. perencanaan SDM-nya msh over estimate..

    hanin: sepertinya untuk bilang terlalu banyak pns lebih tepat kalau dipakai rasio jumlah pns dibanding jumlah penduduk yg harus dilayani… di negara ASEAN, rasio sekitar 2,5 sampai 3. sedangkan di Indonesia masih berkisar 1,6 saja. silakan cek ulang di website badan kepegawaian nasional (bkn.go.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s