Naik Kereta Api: Tuut Tuut Tuut

Menjelang lebaran, saya selalu teringat kereta api. Ini moda transportasi favorit saya karena relatif bebas macet (maklum punya jalur sendiri) meski sering terlambat berjam-jam (kata Iwan Fals, “dua jam itu biasa”). Apalagi di musim lebaran, jadwal kedatangan dan keberangkatan tidak menentu. Para masinis pun mendadak jadi “ramah”, berhenti di berbagai stasiun kecil dan bahkan di tengah sawah, sekedar “silaturahmi”, sambil menunggu giliran melintasi rel yang cuma satu jalur itu.

Zaman dulu, kereta api cuman ada satu kelas – yang sekarang dikenal sebagai kelas ‘ekonomi’. Bangkunya keras, lampunya mati, wc-nya tanpa air. Namun karena tidak ada alternatif, orang masih tetap berjubel di atasnya, bersaing dengan para pedagang asongan. Kondisi ini – konyolnya – masih berlangsung sampai sekarang. Sehari-hari bisa dilihat di jalur KRD Jabodetabek. Merinding juga kalo ingat dulu Hida tiap hari naik KRD ini dari Pondok Ranji – Stasiun Kota.

Sekitar awal 90-an (mungkin 93), muncul kereta dengan kelas ‘bisnis’. Saat itu kereta jenis ini begitu mewah. Tempat duduknya empuk, ada kipas anginnya, ada fasilitas bantal agar nyaman untuk tidur, di gang antar-bangku diberi karpet, dan yang terpenting wc-nya tidak bau lagi karena air mengalir lancar. Kelebihan lain yang sempat dirasakan adalah para pengamen dan pedagang asongan dilarang masuk ke gerbong bisnis. Jadi sepanjang jalan bisa nyenyak tidur, dan kalau terpaksa lapar, bisa jajan dari sambungan antar-gerbong.

Namun sayangnya itu tidak bertahan lama. Sekitar tahun 96, pedagang dan pengamen sudah mulai masuk gerbong. Tiket non-seat pun sudah mulai dijual, sehingga di bordes dan lorong antar-bangku mulai diisi penumpang tanpa tempat duduk. Akibatnya bantal tidak lagi dibagikan gratis, tapi disewakan.

Seolah disengaja, muncullah kereta kelas ‘eksekutif’. Kereta ini lebih dahsyat, karena bangkunya reclining seat dan ada AC-nya. Sebagai konsekuensi, diberikan fasilitas selimut gratis – meski seringkali beraroma debu (Hida alergi debu, jadi tahu betul hal beginian). Pengasong dan pengamen juga dilarang masuk, jadi penumpang diberi makan nasi rames. Di Jakarta, bahkan stasiun kedatangan dan keberangkatannya pun dibedakan. Untuk kelas eksekutif stasiun yang digunakan adalah stasiun Gambir, sedangkan kelas ‘di bawahnya’ – bisnis dan ekonomi – di stasiun Senen.

Tapi jangan salah, di musim lebaran, ada saja penumpang yang tidak punya tempat duduk ‘nyelonong’ ke kereta ini. Umumnya mereka duduk di ujung-ujung gerbong yang tidak terlalu dingin, karena mereka tidak diberi selimut.

Sepertinya tinggal tunggu waktu munculnya kereta kelas ‘VIP’ atau apalah namanya. Modusnya kira-kira: kurangi fasilitas dan kenyamanan yang sekarang, munculkan yang baru dengan kenyamanan yang lebih. Pertahankan 3-4 tahun, lalu kurangi lagi kenyamanannya.

Roda kereta pun berjalan terus…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s