Lolos dari Lubang Jarum (Kiat Lulus Ujian)

Seorang teman penasaran, bagaimana mungkin saya bisa lulus ujian untuk mendapatkan beasiswa S2. Jawaban saya singkat saja: “Push your luck.” Tapi dia malah balik nanya: “Apa artinya?” Dasar.

Baiklah. Ujian yang saya tempuh untuk mendapatkan beasiswa ini terdiri tiga tahap. Tahap pertama tentu saja seleksi administrasi, bermacam SK-SK kenaikan pangkat dan sejenisnya. Ini murni masalah administrasi jadi cuma ada satu kiat: Lengkapi semua persyaratannya.

Tahap kedua adalah tes tertulis dari kantor, dengan materi Bahasa Inggris dan Tes Potensi Akademik (TPA). Tahap ketiga meliputi dua uji: dari kantor dan dari kampus. Dari kantor berupa wawancara dan penulisan paper, sedangkan dari kampus meliputi wawancara dan tes tulis Bahasa Inggris (standar TOEFL), TPA (standar Bappenas), dan manajemen umum.

Berikut ini bagaimana saya meloloskan diri dari lubang jarum itu, secara acak tergantung mood saya mengetik yang mana.

Manajemen Umum

Mulai dari manajemen umum. Isi tes betul-betul manajemen secara umum. Ada 45 soal dalam dua jam, mengenai segala macam hal yang berbau manajemen di sektor privat. Mulai manajemen pemasaran, sumber daya manusia, stratejik, sampai keuangan.

Di tes ini saya beruntung sempat membaca buku-buku dari seri ‘Portable MBA’. Sungguh, saya tidak punya buku seri itu (di Jambi toko mana yang jual?). Saya sempat pinjam dari perpustakaan daerah selama tiga minggu. Yup, pinjam gratis dengan denda 100 rupiah per hari. Lebih mahal ongkos parkir-nya, seribu perak sekali datang.

Menulis Paper

Selanjutnya, penulisan paper. Ide tulisan sudah lama muncul di ujung jari saya, tapi tiap kali pegang keyboard notebook, yang dikerjain lain lagi. Saya cuma sempat bikin outline-nya, tulisan kasar sekitar dua halaman, dan baru saya sentuh lagi empat hari sebelum berangkat untuk ujian tahap kedua.

Sedikit tips: berikan contoh-contoh aktual, kritisi atau sampaikan ide ajaib dalam paper itu – makin orisinal makin seru. Well, ngga tahu apa pengaruhnya, tapi itulah yang saya lakukan dan berhasil memenuhi paper menjadi 10 halaman tanpa kehilangan fokus terhadap inti masalah.

Jangan lupa di-print dan dijilid, serta bawa softcopy-nya di flash disk. Sekadar berjaga-jaga kalau jilidan basah kena hujan.

Wawancara

Oh, ini yang seru, karena sangat tergantung pewawancara. Saya sempat bertanya dengan teman yang biasa mewawancarai, kata dia jawaban yang diperlukan pada dasarnya adalah jawaban normatif, ngga usah sok nyeleneh. Kemudian dukung dengan argumen secukupnya, dan sampaikan dengan gaya yang meyakinkan tanpa kelihatan ragu.

“Apa yang telah Anda sumbangkan untuk kantor selama ini?” (Eits, kita gak perlu itung-itungan gini kan Pak?)
“Apa saja persiapan Anda untuk mendapatkan beasiswa ini?” (Belajar dan berdoa dong.)
“Bagaimana pendapat Anda mengenai disiplin?” (Disiplin itu.. cape deh!)
“Bagaimana pendapat Anda mengenai reward-and-punishment?” (Ada sih…, tapi kecil-kecil..)
“Apakah setelah lulus Anda akan pindah bekerja di tempat lain?” (Kalau yang ini, mari kita berhitung.)
“Jika saat musim ujian, orang tua Anda sakit, bagaimana?” (Jangan doain jelek gitu dong Pak..)
“Apa yang dapat Anda sumbangkan untuk kantor setelah lulus nanti?” (Buku catetan kuliah!)
“Jika Anda tidak lulus, apa yang akan Anda lakukan?”

Hehe, untuk pertanyaan terakhir, hati-hati. Jika dijawab “Ikut lagi di kesempatan berikutnya”, bisa dibalas dengan “Kalau begitu Anda ikuti saja kesempatan berikutnya, jangan yang ini”. Jika dijawab “Saya yakin lulus”, bisa dibalas dengan “Anda sombong amat!”

Kalau wawancara dari Universitas cenderung formalitas, karena mereka tahu kita dapat beasiswa, sehingga masalah finansial tidak ada kesulitan. Jadi saya malah diceritain model kuliah di situ, dan informasi seputar kost di sekitar kampus.

Bahasa Inggris

Saya diprotes habis-habisan karena sempat dapat skor 600. Emang apa salahnya kalau saya nebak dan benar? Waktu baru lulus SMA, saya ikut bimbingan tes gratis sebulan (gara-gara nilai try-out saya paling jelek). Satu-satunya pelajaran yang masih saya ingat sampai sekarang adalah “Kita tidak perlu tahu jawaban yang benar untuk menjawab dengan tepat”.

Halah! Gimana urusannya? Begini teorinya. Soal ujian kan pilihan ganda. Kalau ngga tahu jawabannya, usahakan mengeliminasi dari empat jawaban yang tersedia. Komposisinya menjadi: dua pasti salah, satu meragukan, satu benar. Jika bisa mengeliminasi yang dua-pasti-salah, tentu peluang memilih yang benar menjadi 50:50 (antara meragukan dan benar). Lihat, saya ngga perlu tahu jawaban yang benar, tapi 50% tebakan saya tepat!

Kembali ke laptop. Ke Bahasa Inggris maksudnya. Ujian ini modelnya selalu terdiri dari kosa kata, tata bahasa, dan pemahaman bacaan. Untuk kosa kata, tidak ada cara lain selain menghafal. Waktu SMP dulu, saya diberi kamus saku, dan diwajibkan menghafal isinya dalam enam bulan. Sebagian kecil masih nyantol di otak kanan saya sampai sekarang. Sebagian besar saya eliminasi (perhatikan, bukan sekadar nebak).

Untuk urusan tata bahasa, tentu saja harus dipelajari. Umumnya yang jadi masalah adalah tenses (past, present, future) tapi dalam bentuk kompleks (misalnya future continuous) dikombinasikan dengan anak kalimat (biasanya lebih ‘past’ daripada induk kalimat). Kemudian kata ganti (his atau him), dan preposisi (bedakan on in dan at). Selebihnya, gunakan otak kanan. Rasakan mana yang lebih masuk akal dari kalimat di soal itu…

Nah, pemahaman bacaan, perlu latihan. Ini kombinasi membaca cepat dan memahami isinya. Jadi biasakan keluyuran di internet dengan bahasa Inggris. Oya, mengerjakan soal ini, akan lebih cepat kalau dibaca soalnya dulu sebelum liat bacaannya. Jadi kita cuma perlu mencari yang ditanyakan, ngga perlu semuanya. Ide pokok bacaan biasanya ada di paragraf pertama, didukung dengan kalimat pertama di tiap paragraf.

Lalu bagaimana dengan uji pendengaran? Pertama, pastikan kuping dikorek pagi-pagi sebelum ujian. Kedua, tentu saja konsentrasi. Dan ketiga, yang paling penting, jawablah dengan benar… Halah! Gimana caranya menjawab dengan benar? Latihan dong. Kalau punya duit lebih, silakan ikut TOEFL Preparation. Kalau dana segitu ada tapi sayang buat kursus, langganan TV satelit Astro aja. Terus tonton deh tu BBC tiap hari (pengucapannya jelas, tapi beritanya bikin pusing), atau Animal Planet (dijamin tokoh utamanya pada bugil…) bareng keluarga. Kalau nonton film DVD tanpa subtitle terjemahan, kalau perlu subtitle-nya bahasa Inggris juga. Jangan suka nonton film dubbing-an… Atau kalau yang bokek kayak saya, nonton filem di TV tapi jangan baca subtitle terjemahannya. Atau dengerin siaran BBC di radio (hm, masih punya radio SW kah?)

Tes Potensi Akademik

Terakhir, masalah TPA. Uji ini terdiri dari kemampuan verbal, aritmatis, dan (saya sebut) perspektif. Kemampuan verbal dengan variasi padanan atau lawan kata. Ini menyebalkan karena seringkali yang ditanyakan bukan bahasa manusia sehari-hari. Variasi lain adalah pasangan kata (atas-bawah=tinggi-rendah). Biasanya berupa kontrol hubungan yang sama antara dua kata. Misalnya sebab-akibat, saling komplementer, atau saling subordinat (Hihi, sengaja istilahnya dibikin aneh biar sok ilmiah).

Uji aritmatis tentu saja masalah itungan. Saya ngga jago ngitung jadi kali-kalian yang ruwet saya tembak saja. Kadang cuma pakai logika praktis: ujung kedua angka 5, berarti ujung jawaban juga harus 5 atau nol. Ada juga varian deret bilangan atau huruf. Saya lebih suka deret huruf karena variasinya lebih sedikit, hanya selisih antar-huruf. Kalau deret bilangan banyak betul alternatifnya. Selisih bisa tetap, atau dikalikan sekian, atau pangkat sekian, atau sekian dikurangi sekian… Saya biasanya tulis selisihnya di atas kedua angka itu, baru dilihat polanya. Sekali lagi saya cukup beruntung bisa cepat mengenali macam-macam pola, meski bukan berarti saya tahu hubungan antar-pola…

Uji perspektif (apa sih istilahnya) biasanya berupa pergerakan. Kalau lingkaran ini diputar, maka garis ini akan berada di mana? Kalau kubus ini dibolak-balik, di mana sisi hitam-nya? Waktu SMA, skor tes psikologi saya paling tinggi adalah bidang ‘pandang ruang’. Sebab saya pakai karet penghapus sebagai alat bantu saya membolak-balik kubus!

Nah, kalau udah begitu, tinggal good luck aja deh. Selamat berjuang, semoga sama-sama sukses.

5 thoughts on “Lolos dari Lubang Jarum (Kiat Lulus Ujian)

  1. aq pengen banget dapat beasiswa S2, tapi aq nda tau musti cari ke mana, cari di internet kadang kelamaan krna biaya yang musti di keluarkan banyak ( aq hidup di desa yang terpencil), intinya aq bingung bisa tolong nda aq musti ke instansi mana supaya dapat info beasiswa itu. thanks loh klo di jawab ke sms aja yah 086278797658

    hanin: ups, lagi ga punya pulsa nih. info beasiswa bisa liat-liat di http://www.about-scholarship.com/. selamat belajar!

  2. Makasih mba atas tipsnya… btw aku emang mau tes TPA Bapenas nih dua hari lagi…

    hida: sip… senang bisa membantu… semoga sukses ya..

  3. ass, salam kenal ya m’ ini dari iyah eh m’ q kan mau seleksi tes di Depkeu kalau boleh minta dikirimin soal2 TPA dong n makasih sebelumnya

    hanin: Iyah… kita ada soal TPA tapi model hardcopy… jadi ga bisa dikirim by email. Cari aja di toko buku kan banyak tuh… met ujian, moga berhasil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s