Tehnik Pemasaran

Tenang, jangan terlalu serius. Sekali ini saya mau menulis tentang cara pemasaran para bakul keliling yang lewat di depan rumah kontrakan kami.

Ada yang caranya tradisional, old-fashioned, ngikutin pakem. Contohnya tukang mi dan nasi goreng. Dia masih pake kentongan bambu dengan bunyi tok-tok-tok yang khas. Juga tukang tahu tek, yang mukul-mukul penggorengannya penuh semangat di malam buta.

Ada yang keliling menyebutkan daftar dagangannya. ‘Jajan… jajan.. otak-otak, bakwan, botok, ayam goreng, gorengan…’

Ada yang sedikit modifikasi, dengan pembedaan intonasi dan nada. Misalnya bakul minyak tanah. Dia emang cuma tereak minyak-minyak, tapi cara ngomongnya diubah. Panggilan ‘minyak’ diteriakkan dengan nada seperti anak kecil memanggil temannya. ‘Miinyaak, beli yuk..’ (sayangnya saya ngga sempat ngerekam tuh).

Ada juga yang modifikasinya sederhana tapi ngeselin. Misalnya tukang bubur kacang ijo. ‘bu BUUr … KACANG ijo..’ Ada jeda agak panjang antara ‘bu’ dan ‘kacang’. Jadi waktu ngomong ‘Bu’, ibu-ibu sekomplek berenti kerja semua, dikira anaknya yang manggil. Agak lama baru dilanjutin dengan ‘kacang’ nya. Terpaksa para ibu nyengir dan sebagian beli karena udah terlanjur ke depan.

Tapi ada yang paling ngeselin, tukang roti dari bakery lokal. Dia pakai sepeda motor, dan cara menawarkannya sangat konyol: tekan klakson terus-terusan. ‘Teeeeeeet…’ Astaga. Sempat juga awalnya saya keluar rumah, kirain ada tabrakan atau apa, kok orang ngelakson ampe lama begitu.

Hal kaya gini nih yang ngga diajarin di kuliah MM…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s