Menulis Itu Susah

Sejak lulus kuliah tahun 2001 lalu, tak terasa hampir 7 tahun saya tidak banyak menggunakan pulpen untuk menulis. Paling banter saya mengisi formulir untuk bikin KTP dan SIM. Pulpen lebih sering saya pakai untuk tanda tangan gaji malah.

Selama tujuh tahun yang berbahagia itu, saya hanya menghabiskan setengah bagian dari sebuah buku agenda yang saya beli setelah lulus ujian komprehensif. Hampir segala macam saya catat di situ, sekarang ini sebagian besar saya sendiri tidak tahu lagi apa maksudnya. Saya juga punya notes kecil yang ke mana-mana nyelip di saku saya, karena saya suka malas menghafal nama-nama dan angka-angka. Setelah tujuh tahun, isinya cuman sepuluh lembar!

Hampir semuanya saya tulis di komputer. Keahlian saya mengetik 10 jari jelas-jelas berkembang pesat, sekarang saya merasa lebih cepat menulis dengan keyboard daripada dengan tangan. Satu-satunya alasan kenapa saya menulis ke agenda adalah kalau notebook saya ngadat gak mau nyala.

Dalam hard disk saya ada satu folder khusus yang saya proteksi dengan password. Isinya file-file kecil yang saya tulis pakai notepad. Ada shortcut di start menu untuk membuka notepad. Saya lebih suka pakai notepad karena ringan dibandingkan MSword. Lagipula catatan saya tidak perlu diformat macam-macam. Kata orang sih “substance over form”.

Jadi, bisa dibayangkan betapa menderitanya bapak dan ibu dosen di kuliah S2 saya ketika harus mengoreksi karya tulisan tangan saya di waktu ujian. Tulisan saya, jelas, jauh lebih kacau daripada waktu kuliah dulu. Ditambah lagi pulpen yang jarang saya pakai itu tintanya melar ke mana-mana, tembus sampai ke halaman belakang lembar jawab!

Saya sendiri baru sadar betapa tidak nyamannya menulis dengan tangan. Di komputer, saya sudah begitu lihai menekan kombinasi [ctrl][x] dan [ctrl][v] untuk cut-and-paste. Meski saya merasa tulisan saya melompat-lompat, jari saya tetap akan mengetikkan apapun yang terlintas di kepala. Segera sesudahnya saya akan cut-and-paste, memindahkannya ke tempat yang lebih terhormat supaya lebih nyaman dibaca. Begitu juga ketika ada ide tertentu yang tiba-tiba muncul, saya tinggal menaruh kursor di tempat yang diperlukan dan meng-insert-nya di situ. Belum lagi jika ada kata-kata yang rasanya kurang mewakili, saya langsung ganti dan [ctrl][del] untuk menghapus kata-kata yang tidak pada tempatnya.

Segala kemudahan yang saya nikmati itu tiba-tiba tidak dapat saya manfaatkan saat ujian kemarin. Selama empat hari saya sibuk sendiri memaksa pikiran saya untuk tidak meloncat ke sana-ke mari. Terpaksa beberapa menit saya luangkan untuk membuat outline isi jawaban saya, agar nantinya ada alur yang bisa saya ikuti.

Tapi, tetap saja, tulisan tangan saya tidak serapi print-out komputer. Huruf favorit saya, Verdana, mendadak berubah menjadi font ceker ayam….

6 thoughts on “Menulis Itu Susah

  1. Pak, waktu ujian di MM menjadi saat yang sangat menyiksa karena tangan kurang cepat mengikuti kerja otak, dan jari menjadi cepat pegal. Asli, saya harus kibas2 jari sekian kali karena lelah. Jangan tengok lah hasil tulisan, pasti amburadul. padahal di dalamnya tersembunyi buah pikir jawaban ujian yang belum tentu salah.

    hanin: sayang sekali dosen di MM udah pada uzur. Jadi kalo ngeliat tulisan amburadul, udah males aja bawaannya. Bisa jadi main tembak aja beliau-nya, kasih nilai sesuai naluri dan mood….๐Ÿ™‚

  2. wah..hampir kita melupakan menulis dengan handwriting yang baik, teknologi memudahkan segalanya

    hanin: salah satu alasan kenapa saya ngga punya alat untuk recognize handwriting ya karena tulisan saya jelek… kasihan kan alat mahal-mahal ngga berdaya melawan ke-ceker-ayam-an saya…

  3. nin,
    mbok sekali2 hasil tulisan tanganmu itu discan dan diupload dimari…
    biar kita bisa tahu seberapa parah tulisan tanganmu.๐Ÿ˜›

    oia, jadi nilai2 S2 mu gimana?
    gak malu2in kan?๐Ÿ˜€

    hanin: scanner di kantor ampe rusak gara-gara mual ngeliat tulisanku…๐Ÿ˜› Nilai S2 belum keluar, dosenku masih pusing ngeliat lembar jawabku!

  4. Kabar gembira!! Buat yang suka nulis-nulis, buat penulis muda, buat para blogger, buat temen2 yg hobi nulis tapi belum bisa buat buku, belum percaya diri, sekarang sudah ada medianya, Situs Komunitas Penulis Indonesia,

    Penulis-Indonesia.com, kayak Friendster tapi khusus buat yang hobi nulis, penulis, pujangga, penulis naskah, blogger…

    fasilitasnya juga cukup oke, lengkap dgn alamat pribadi untuk profil, blog, dan album…ada chatnya juga loh๐Ÿ™‚
    Baru dibuka 1 Januari 2008 lalu, skrg membernya sudah 300an๐Ÿ™‚ rame buanget loohh aktifitasnya!!

    Semoga bermanfaat๐Ÿ™‚

    Cepetan gabung ya๐Ÿ™‚ di sini alamatnya :

    Penulis-Indonesia.com atau tanpa tanda –
    PenulisIndonesia.com

    hanin: wah, bermanfaat sekali… makasih, segera meluncur ke TKP… si yu der๐Ÿ˜›

  5. Sama! Verdana is da best!

    hanin: iya… Verdana emang dibikin khusus oleh gerombolannya Om Bill Gates untuk font di internet. Saya suka Verdana karena agak gendut, jadi kalau bikin tugas 10 halaman, bisa agak dikitan ngetiknya๐Ÿ™‚ karena kalo dipindahin jadi Arial, bisa-bisa cuman 8 halaman doang…

  6. Biasanya orang lain yang akan bilang kalau tulisan kita menarik. Masalahnya banyak orang memilih diam kalau merasa tulisan kita tidak menarik hehehe…

    Berbahagialah ada banyak komentar di blog ini๐Ÿ™‚

    hanin: makasih uda mampir Mas… iya, kita emang jarang mengkritik, karena kita juga nda suka dikritik sih… hehehe…๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s