Value Chain vs Value Add

Kita semua sudah memahami apa itu value add. Oke, mungkin malah saya yang kurang paham. Sepanjang pemahaman saya, kegiatan value add merupakan peningkatan nilai dari suatu barang / jasa yang dilakukan oleh perusahaan.

Penambahan nilai itu sendiri dapat berupa perubahan bentuk (dari papan menjadi meja), pemindahan tempat (seperti yang dilakukan perusahaan pengangkutan, atau penambang pasir yang memindahkan dari sungai ke toko material), maupun pengembangan jumlah (seperti pembibitan ternak atau tanaman).

Yang menjadi masalah adalah bagaimana membandingkan perusahaan yang tidak sama jangkauannya, yaitu antara perusahaan hulu-ke-hilir dengan perusahaan pabrikasi saja. Atau memandang posisi perusahaan di lingkungan industrinya, yaitu apa peran perusahaan dibandingkan para rekanan bisnisnya (supplier / distributor). Untuk keperluan ini kemudian diperkenalkan konsep value chain.

Value chain memandang proses bisnis perusahaan secara lengkap. Jadi value add dari para supplier-nya supplier (misalnya pembibitan pohon jati), lalu value add dari supplier-nya (perusahaan HPH penghasil kayu jati), kemudian value add dari perusahaan sendiri (dari kayu jati menjadi meja ukir), lalu value add dari distributornya (eksportir ke negara Eropa), kemudian value add dari distributornya distributor (toko furnitur di Eropa sana), sampai ke konsumen akhir. Nampak di sini bahwa perusahaan adalah bagian dari super sistem dari penanaman pohon jati hingga menjadi meja jati ukir di ruang tamu konsumen.

John Shank & Vijay Govindarajan dalam bukunya STRATEGIC COST MANAGEMENT (out-of-print), memberi contoh yang bagus mengenai implikasi perubahan sudut pandang ini. Ringkasan dapat dibaca di sini.

Perusahaan yang masih menggunakan sudut pandang value add, akan menghitung keputusan investasinya berdasarkan Internal Rate of Return (atau melalui Net Present Value) serta memperhatikan posisi produk dalam matrik Boston Consulting Group. Jika pendekatan ini tidak dilanjutkan ke pendekatan value chain, akan berakibat terdistorsinya informasi pengambilan keputusan.

Setelah disusun berdasarkan value chain, ternyata investasi yang akan dilakukan perusahaan, akan memberi andil value add perusahaan terhadap keseluruhan chain (dari supplier sampai distributor) yang lebih kecil daripada value add yang dinikmati para distributor. Share perusahaan terhadap keseluruhan value add hanya 2% saja, sisanya yang 98% dinikmati oleh pihak distributor. Dengan value add yang sangat kecil, margin yang diperoleh perusahaan juga sangat kecil. Di samping itu posisi tawar perusahaan akan sangat lemah, karena para distributor lebih dominan sehingga dapat dengan mudah berpindah ke lain perusahaan untuk menjadi supplier mereka.

Dari sini dapat disimpulkan, perusahaan pertama-tama tetap harus memperhitungkan IRR mereka saat mempertimbangkan suatu keputusan investasi. Jika perhitungan itu menunjukkan investasi tersebut layak dilakukan, perusahaan harus mempertimbangkan perpektif value chain. Sebab dengan perspektif value chain tersebut, perusahaan dapat mengetahui posisinya dalam persaingan dan posisi tawarnya dalam keseluruhan chain. Selanjutnya manajemen dapat memutuskan strategi apa yang paling tepat bagi perusahaan, apakah tetap masuk dalam investasi tersebut dengan mengendalikan cost driver dan diferensiasi, atau mundur dan mengalihkan dana ke alternatif investasi lain.

2 thoughts on “Value Chain vs Value Add

  1. kalau pindah kerjaan termasuk value add apa value chain

    hanin: tergantung, pindahnya ke mana? jangan-jangan malah turun value-nya tuh…

  2. Somehow i missed the point. Probably lost in translation🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Impeccable

    hanin: uff… err.. anything you say lah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s