Terminal

Sudah lama saya tidak ke terminal. Oke, hampir tiap hari saya lewat, tapi yang benar-benar berada berjam-jam di dalamnya sudah lama tidak saya nikmati. Ini kali, gara-gara bis yang akan saya tumpangi telat datangnya.

Entah mengapa, saya suka merasa ada energi tertentu yang berpusar di terminal. Misalnya, bagaimana seorang penjual nasi bungkus bergerak mengikuti matahari. Betul, secara harafiah, dia bergerak sesuai pergerakan matahari.

Mula-mula dia berteduh di bawah rindang pohon. Ketika matahari bergeser dan pohon itu tak lagi memberi keteduhan, dia bergeser di balik tembok pagar. Tak lama, dia berpindah lagi… ke sebelah pembatas WC umum. Dan, ketika matahari digantikan lampu-lampu akrilik, dia pun bergegas memburu tiang lampu untuk memajang dagangannya.

Saya tidak habis pikir betapa dia melakukannya dari hari ke hari, dengan irama yang nyaris sama. Ketika orang datang dan pergi, dia setia dengan nasi bungkusnya, tak ada kegetiran di wajahnya. Bahkan, ketika seorang pengemis menghampirinya, dia membiarkannya mencomot sebungkus – tanpa merasa perlu meminta bayaran.

Di titik ini, saya tidak tahu lagi rona wajah saya. Tadi, saya nyaris batal memberi pengemis itu sekeping logam. Penjaja nasi bungkus itu, yang saya bahkan tidak tertarik mengintip isi bungkusannya, rela memberikan dagangannya begitu saja. Hidupnya, nafkahnya, tanpa bicara dia ikhlaskan.

Saya benar-benar mati gaya. Beruntung bis saya segera datang.

Iklan

One thought on “Terminal

  1. saya juga pernah ngeliat mas pas pulang kerja sore2 maghrib pokoknya uda gelap gitu di perempatan lampu merah. Sepasang cewek sama cowok suami istri kali tapi masih muda keliatan meskipun dari sebrang jalan, naik motor ngampirin anak yang jualan koran, korannya masih banyak. Saya pikir dalam hati orang kok beli koran sore2, eh ternyata korannya dibeli semua di bawa sama di ceweknya di belakang. kemudian ta peratiin mereka ngobrol sambil anaknya itu nunjukin arah gitu nda lama anak itu diboncengnya juga di depan. wah… ternyata masih ada juga yang peduli udah korannya dibeli semua di anterin lagi…

    kok rasanya malu seringnya anak2 itu menawarkan koran harga Rp 2000 aja dibanding majalah langganan yang Rp 20-50 ribu itu tapi ta tolak.

    hanin: very touching. saya juga suka merasa arogan kalo lagi menolak beli koran dari ibu2 tua di perempatan dekat kampus. ga tega…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s