UAN Seharusnya *TIDAK* Dihapuskan

Saya sudah lama lulus sekolah, dan saya belum punya generasi baru yang akan menempuh UAN. Jadi, sesungguhnya, saya tidak terlalu berkepentingan apakah UAN akan diadakan atau tidak. Namun saya betul-betul gatal melihat berbagai demonstrasi anti-UAN dengan argumentasinya yang menggelikan.

Pertama, selalu didengungkan betapa masa belajar tiga tahun hanya ditentukan oleh satu-dua hari ujian. Saya betul-betul tidak bisa mencerna argumentasi ini. Di luar sana, sadarlah, masih banyak fenomena serupa yang tidak pernah diprotes ke sana ke mari.

Coba lihat atlet lari jarak pendek 100 meter. Anda tahu berapa lama mereka berlatih? Bertahun-tahun! Setiap hari mereka harus lari, jaga stamina, mengatur pola makan-minum-tidur, mengasah tehnik. Lalu apa yang terjadi? Hasil latihan bertahun-tahun itu hanya dipertaruhkan dalam waktu kurang dari 20 detik!

Itu adalah pertaruhan menang-atau-tidak-samasekali. Atlet yang berada di posisi ketiga ,tidak akan pernah dikenang sebagaimana atlet yang finis pertama. Atlet yang finis pertama,tidak akan pernah dikenang sebagaimana atlet yang memecahkan rekor tercepat.

Kalau mereka gagal menang di olimpiade, harus tunggu empat tahun lagi! Tidak ada alasan kalau mereka sakit, itu adalah bagian dari proses ‘menjaga stamina’. Kalau mereka terpeleset, itu adalah bagian dari ‘mengasah tehnik’. Kalau cuaca tidak mendukung, toh semua peserta sama-sama melawan cuaca yang tidak bersahabat itu. Fair dan sportif bukan?

Lalu apa? Apa bedanya? Peserta UAN dan atlet itu sama-sama belajar dan berlatih untuk satu tujuan. Puncak pertaruhan mereka hanya di ujung, ketika UAN atau pertandingan. Seandainya peserta UAN punya sportivitas sebagaimana para atlet itu, tidak relevan alasan pertaruhan proses belajar hanya dalam dua hari.

Kedua, alasan bahwa ada kemungkinan pada saat UAN si peserta sedang tidak fit. Saya juga tidak bisa memahami alasan ini. Memangnya kalau nanti mereka lulus dan bekerja, lantas suatu saat tidak fit, kerjaannya boleh salah?

Bayangkan jika Presiden membuat keputusan yang salah, apakah lalu ketika diminta pertanggungjawabannya dan sang Presiden menyatakan saat itu sedang sakit kepala, maka permasalahan selesai? Tidak, bukan? Para peserta UAN itu adalah generasi penerus yang salah satunya suatu saat akan menjadi Presiden negara ini!

Cobalah sekali-sekali saat para peserta UAN itu sakit, tanyakan padanya berapa satu ditambah satu. Mustahil dia tidak menjawab ‘dua’ bukan? Eits, kenapa, itu pertanyaan terlalu sederhana? Tidak demikian.

Jika pembelajaran bukan sekedar menghafal rumus, namun memahami alur logikanya, tidak penting si peserta UAN sedang fit atau tidak. Pemahaman tidak akan hilang, sebagaimana dia memahami satu apel ditambah satu apel adalah dua apel, dan satu jeruk ditambah satu strawberry tetaplah satu jeruk dan satu strawberry.

Contoh lain, yang juga sederhana, Anda pernah belajar naik sepeda ketika kecil. Puluhan tahun kemudian, Anda tidak lupa bagaimana cara naik sepeda bukan? Bahkan anak kecil yang sedang sakit pun memaksa main sepeda di kala hujan…

Ketiga, alasan bahwa hanya sebagian mata pelajaran yang di-UNAS-kan tidak mencerminkan kemampuan peserta yang sesungguhnya. Sekali ini saya betul-betul heran. Jika itu alasannya, tentu bukan UAN-nya yang dihapuskan. Seharusnya, kalau perlu, semua mata pelajaran di-UAN-kan !

Betapapun, saya memahami kecemasan para orangtua dan anak-anak peserta UAN. Tapi tolong pahami, generasi saya juga dulu ada yang namanya EBTANAS – serupa dengan UAN. Toh kami baik-baik saja melaluinya. Bagi saya, itu adalah proses pembelajaran, menghadapi tantangan dan ujian yang hampir tiap hari di dunia nyata.

4 thoughts on “UAN Seharusnya *TIDAK* Dihapuskan

  1. unas gak perlu dihapuskan untuk SMA, klo untuk SD dan SMP penilaian serahkan ke guru mereka saja, karena masih ada hubungan yg baik antara guru dan siswa, sehingga guru bisa memutuskan lulus atau tidaknya siswanya tsb…

    sedangkan SMA, hubungan itu sudah tidak ada, bisa saja siswa lulus karena gurunya dibayar atau di sogok atau apa lah, jadi harus diadakan UNAs di tingkat SMA

    hanin: hubungan baik dan sogok menyogok itu … absurd banget dah!

  2. saya setuju UAN tetap diadakan karena kita harus punya standar pendidikan yang relatif sama alias merata di seluruh Indonesia. namun melihat fenomena siswa yang semakin tidak percaya diri terhadap kemampuannya dalam mengerjakan soal.-ini terlihat dari budaya nyontek yang semakin umum,- rasanya kok miris. Apa gunanya lagi standar nasional jika yang didapati adalah siswa-siswa yang tidak lagi percaya kapada kemampuannya sendiri. parahnya sebagian sekolah semakin mendorong siswa untuk mencontek dengan guru sebagai nara sumber kunci jawaban (bukan materi). Lalu apa yang bisa dicapai?

    hanin: ya, setuju, harus seimbang dengan morality. analoginya, kalau ada kerusuhan di konser dangdut, kan bukan dangdutnya yang dilarang to? atau kalau suporter bola pada berantem, kan bukan sepakbolanya yang dilarang kan? balik lagi ke orangnya, belajar itu kan cari ilmu, bukan cari nilai.

  3. setahuku tak ada guru yang membiarkan muridnya nyontek saat ulangan, tapi mengapa saat ujian dibiarkan?

    bisa jadi alasan menentang uan tidak sesederhana yang sampaeyan tulis.

    (ebtanas sistemnya setahuku tidak sama dengan uan)

    hanin: alasan menentang uan yang saya tulis sesuai yang di-demo-kan dan digembar-gemborkan di televisi. bedanya uan dengan ebtanas hanya masalah kelulusan, ebtanas tidak menentukan kelulusan sedangkan uan digunakan untuk menentukan kelulusan. akibatnya waktu zaman ebtanas, di cawu/semester akhir, nilainya hampir 9 semua di raport untuk mengantisipasi kalau ebtanas jeblok, tetap bisa lulus dengan nilai ijazah cukup bagus (karena rata-rata nilai raport dengan ebtanas).

  4. setuju ma mas Hanin….yang namanya ujian ya emang selalu ada…kenapa sekarang dibikin seperti monster yang mengerikan ya…..

    hanin: iya bu, lebay ya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s