Solo yang Menyesatkan

Weits, judulnya provokatif. Ini masalah tersesat beneran, waktu liburan long weekend tiga hari yang lalu. Dua kali saya lewat Solo (waktu berangkat dan waktu pulang), dua-duanya tersesat!

Pertamanya, waktu berangkat, saya berniat mampir ke pasar Klewer. Sebagai pelintas-kota, tentu saya tidak terlalu paham dengan kota Solo ini. Nah, begitu masuk Solo, sebelum bundaran UNS, ada penunjuk arah yang jelas-jelas bertuliskan “Pasar Klewer” dengan panah ke kiri. Tanpa ragu saya pun belok kiri mengikuti petunjuk itu.

Setelah itu, celakanya, tidak ada petunjuk lagi! Saya tentu mengikuti kaidah logika saya: kalau tidak ada petunjuk, lurus saja. Sumprit juprit sepanjang jalan itu saya tidak menemukan lagi tanda penunjuk menuju pasar Klewer! Akibatnya jelas, saya tersesat tanpa ampun. Karena kesal, saya tidak berminat memutar arah. Entah bagaimana, saya tiba-tiba sudah berada di jalur menuju ke Yogyakarta. Bye pasar Klewer, sorry gak jadi belanja, saya sudah emosi, dan tidak baik belanja dalam kondisi emosi yang tidak stabil.

Kedua, waktu pulang. Saya berangkat sudah agak kesiangan, jadi sampai di Solo sudah menjelang Ashar. Lagi-lagi saya berprasangka baik dengan mengikuti rambu-rambu penunjuk arah. Tapi, demi tautatis, saya tersesat lagi!

Sungguh saya tidak habis pikir mengapa penunjuk arah itu tidak menunjukkan jalur seperti keadaan jalanan sebenarnya. Ada panah lurus dan ke kanan, padahal jalanan serong kiri dan serong kanan. Ada jalanan yang terpecah jadi lima, dengan satu penunjuk arah yang terhalang dahan pohon. Kenapa sih di jalan yang arah luar kota itu tidak diberi papan penunjuk terpisah? Misalnya, yang arah Surabaya, beri papan di situ: “Surabaya” dengan panah menunjuk masuk ke jalan itu. Demikian juga yang ke arah sebaliknya. Jadi ketika di tengah persimpangan, pengemudi konyol macam saya ini tidak perlu bingung dan tersesat di kota Solo sampai hampir satu jam lamanya.

Tapi saya tidak berprasangka buruk. Barangkali, itulah cara kota Solo menunjukkan keramahannya. Kalau bingung, silakan tanya, orang Solo akan dengan ramah dan senang hati menunjukkan jalan yang benar.

Di sini betul-betul berlaku pepatah “malu bertanya sesat di jalan”.

Iklan

One thought on “Solo yang Menyesatkan

  1. waduh sama mas solo membingungkan!!! kalo kesolo bener2 nggak tau daerah solo repot !!!saya asli wonogiri aja kesolo maen juga sering nyasar mas!!!

    hanin: jiyah, ada temennya to… 😀 yuk kita protes sama pemda Solo yuk biar dibaikin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s