Legislative Idol

Kemarin, saya dapat anugerah untuk menyaksikan siaran langsung rapat salah satu komisi di DPR. Meski sudah berkali-kali ada siaran langsung seperti ini, baru sekarang saya menyaksikan sejak pembukaan hingga sang televisi menghentikan siaran langsungnya meski rapat belum selesai.

Sungguh saya amat sangat penasaran dengan cara kerja para wakil rakyat saya itu. Ternyata, mereka masing-masing mendapat giliran untuk bertanya, kemudian dijawab oleh para mitra yang hadir. Kebetulan masalah yang dibahas dalam rapat itu bukan bidang saya, jadi saya tidak terlalu paham dengan timbulnya perdebatan nyaris tanpa ujung atas jawaban para mitra tersebut.

Bagus sih, para wakil rakyat tersebut tidak langsung puas dengan jawaban-jawaban tersebut. Sekilas tampak kritis. Tapi, sebagai penikmat diskusi, saya betul-betul tidak memahami pola diskusi itu yang sering lari dari pokok masalah, sehingga yang didiskusikan akhirnya adalah penjelasan dari penjelasan untuk menjelaskan hal yang didiskusikan. Bingung? Ya, begitulah kejadiannya.

Hal lain yang juga membuat diskusi melalui pertanyaan bergilir itu makin tidak menarik adalah tidak adanya larangan para anggota dewan yang terhormat tersebut mempertanyakan hal yang sama berulang-ulang. Dengan tambahan berbagai kembang bahasan yang tidak krusial, toh akhirnya yang dipermasalahkan sama. Dan, masing-masing akan mendebat untuk jawaban yang pastinya sama juga diberikan oleh mitra rapat. Duh, bener sih, masing-masing anggota berhak menyampaikan pandangannya, tapi mbok ya dipikirkan cara lain supaya lebih elegan dan tidak menghabiskan waktu membahas itu lagi itu lagi.

Semakin saya terkantuk-kantuk, saya makin merasa beberapa anggota dewan sedang mendemonstrasikan keahliannya berargumentasi. Seseorang, saya lupa namanya, sampai berkali-kali dengan penuh semangat keliru menyebut nama institusi dan lokasinya. Setelah dibantah, dengan lihai beliau membelokkan permasalahan ke hal lain, betul saya perlu belajar berkelit dari beliau yang satu ini.

Saya sempat terbangun ketika beberapa anggota dewan memintakan perlakuan berbeda atas seseorang demi alasan stabilitas, padahal baru saja seluruh anggota meminta perlakuan yang sama bagi semua orang. Setelah minum seteguk teh, saya sadar, beliau-beliau ini mungkin harus memenuhi kewajibannya kepada para konstituen dengan menyampaikan dalam rapat tersebut.

Dan, ketika akhirnya televisi menghentikan siaran langsungnya sebelum rapat tersebut benar-benar berakhir, saya bertanya-tanya, ada ngga ya, lembaga yang menilai kualitas rapat-rapat kerja para anggota dewan itu? Dari pertanyaan dan perdebatannya?

Ah. Kalau saya punya production house, saya pasti bikin Legislative Idol. Ayo, siapa legislator favorit Anda, ketik LI spasi nomor keanggotaan dewan kirim ke ….

One thought on “Legislative Idol

  1. Like this mas… kadang mereka mencari cari masalah terus.. Tp ga da penyelesaian yg jelas…jd kesannya ga da hasil dari diskusi yg bisa jd penyelesaian masalah yang diangkat… Semua ngegantung dan akhirnya inti masalah terlupakan…

    hanin: mungkin itu bagian dari strategi pengalihan perhatian?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s