Teror TV

Akhir-akhir ini saya makin sering menggenggam remote control saat menyaksikan acara televisi. Bukan hanya karena remote ini sudah perlu ganti batre (sehingga perlu pencet paksa supaya kerasa efeknya), tapi juga karena sekarang saya harus sering-sering mengubah channel televisi yang saya tonton.

Lihat tayangan berita, sudah tidak ‘mendidik’ bagi saya. Entah kenapa, sekarang ini stasiun televisi dengan tenangnya menayangkan korban-korban kecelakaan, entah itu dalam kondisi luka parah atau sudah meninggal. Memang sih, kadang dikasih sensor blur, tapi tetap saja saya tahu kalau itu shoot scene si korban. Memangnya ngga bisa ditampilkan gambar lain, misalnya kondisi kendaraan? Eits, tapi jangan yang masih penuh bercak darah gitu dong!

Kebiasaan ini sepertinya muncul sejak masa ramainya pemberitaan penyergapan terduga teroris. Masih ingat betul, gambar yang sama, dengan presentasi dan narasi yang sama, ditayang berulang-ulang, yang hanya menampilkan ruang bekas penggerebekan – yang eksklusif dengan sisa-sisa darahnya. Jiah! Sedangkan game aja ada ratingnya, yang penuh darah begitu ga bakal lolos untuk 13 tahun ke bawah, ini malah ditayangkan di jam segala umur!

Yang juga lagi nge-tren sekarang ini, demo yang anarki. Sungguh saya tidak bisa membayangkan kenapa tayangan ini berkali-kali tampil. Entah masalah pilkada, sengketa tanah, transparansi keuangan (heran mahasiswa kok anarkis di kampus sendiri), sampai advokat yang ngamuk-ngamuk di gedung negara (heran, mereka tidak percaya pada jalur hukum yang selalu mereka perjuangkan). Saya sering berprasangka buruk, tayangan macam inilah yang membuat masyarakat di tempat lain “terinspirasi” berlaku anarkis di mana-mana. Dan, jika ini ditonton oleh para calon wisatawan dan investor, … Apa kata dunia??

Tayangan lain, hiburan, juga sering membuat saya serba salah. Memang sih acara nyanyi-nyanyi, tapi… busananya itu lho! Tariannya itu lho! Weleh, jadi inget dulu ribut-ribut masalah RUU pornografi dan pornoaksi, ke mana tuh para aktivis yang rame-rame itu. Apa ya kudu sampai separah kasus video asusila begitu baru di-bredel penayangannya?

Ah, saatnya saya ganti batre remote. Tentu, sebelum saya punya dana untuk ganti televisinya!

4 thoughts on “Teror TV

  1. Betul bro…., tapi mau gimana lagi yang punya acara mereka..yang kita punya cuman TV ama remotnya aja…., mungkin dengan tulisan seperti ini..lambat tapi pasti ada perubahan…., sukses selalu
    Salam
    Karcax

    hanin: hehe, ga yakin juga si, mereka bakal mampir sini, ngebacain curhat saya 🙂

  2. wah mas hanin, seneng aku baca2 blognya..soal tv, emang bikin runyam dunia,apalagi buat genre baru, pesenku nti klo udah ada buntut(kudoakan slalu tuk ber2, moga tambah ber3,4, dst..)jangan pasang tv aja deh..dari si sulungku umur 5th,kami PHK tuh tv..ga ada bagus2nya..jadi mpe sekarang (5th) kami idak punya tv dirumah..udah komit,tunggu mereka sma,bru dibeliin tv he he..

    hanin: oke mba ririn, pesan diterima. ntar demi para buntut-ers, kita puasa tivi deh. cukup lah informasi dari radio dan koran. internet… blokir juga dah! hehehe…

  3. wah…kalo darah mah udah sering yang bahaya sinetron,sinetron sekarang…kelakuannya udah mencuci otak manusia…makanya banyak orang yang gampang marah,jail dan banyak lagi kelakuan yang baru bermunculan

    hanin: iya… mana KPI ya mana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s