Belajar dari TV Champions

Saya suka nonton acara TV champions yang ditayangkan di MNCTV ini. Orang Jepang bisa aja bikin lomba aneh-aneh yang nggak kebayang.

Ada episode ketika peserta wajib menebak suatu puding berasal dari toko mana. Ada juga yang menebak es krim. Atau, episode menebak ciri khas suatu wilayah perbelanjaan tertentu. Juga ada lomba pembuat permen hias, patung styrofoam, kandang anjing… Atau sekedar lomba menyusun koin!

Satu yang saya heran dari semua peserta adalah, mereka minim ekspresi. Menang tanpa jingkrak-jingkrak, kalah tanpa kesedihan. Tapi sportif lho, mereka kalau kalah pasti bilang akan berusaha lebih keras. “Saya akan makan puding lebih sering supaya lebih hafal”.

Tapi yang buat saya lebih menarik adalah, acara ini bisa menghadirkan sisi keahlian masing-masing orang di bidangnya. Meski sekilas tidak masuk akal, seperti mengamati ciri khas suatu kompleks belanja, itu perlu buat para pemandu wisata. Juga menghafalkan puding buatan toko mana, selain boros, tentu memicu para penjual puding memiliki ciri khas tertentu. Tidak sekedar jualan puding standar.

Kreativitas, dedikasi, rasanya itu yang membuat saya betah nungguin acara ini – yang jadwal tayang nya ngga terlalu jelas, dan potongan iklannya seenak jidat… Khas masa lalu televisi ini.

Legislative Idol

Kemarin, saya dapat anugerah untuk menyaksikan siaran langsung rapat salah satu komisi di DPR. Meski sudah berkali-kali ada siaran langsung seperti ini, baru sekarang saya menyaksikan sejak pembukaan hingga sang televisi menghentikan siaran langsungnya meski rapat belum selesai.

Sungguh saya amat sangat penasaran dengan cara kerja para wakil rakyat saya itu. Ternyata, mereka masing-masing mendapat giliran untuk bertanya, kemudian dijawab oleh para mitra yang hadir. Kebetulan masalah yang dibahas dalam rapat itu bukan bidang saya, jadi saya tidak terlalu paham dengan timbulnya perdebatan nyaris tanpa ujung atas jawaban para mitra tersebut.

Bagus sih, para wakil rakyat tersebut tidak langsung puas dengan jawaban-jawaban tersebut. Sekilas tampak kritis. Tapi, sebagai penikmat diskusi, saya betul-betul tidak memahami pola diskusi itu yang sering lari dari pokok masalah, sehingga yang didiskusikan akhirnya adalah penjelasan dari penjelasan untuk menjelaskan hal yang didiskusikan. Bingung? Ya, begitulah kejadiannya.

Hal lain yang juga membuat diskusi melalui pertanyaan bergilir itu makin tidak menarik adalah tidak adanya larangan para anggota dewan yang terhormat tersebut mempertanyakan hal yang sama berulang-ulang. Dengan tambahan berbagai kembang bahasan yang tidak krusial, toh akhirnya yang dipermasalahkan sama. Dan, masing-masing akan mendebat untuk jawaban yang pastinya sama juga diberikan oleh mitra rapat. Duh, bener sih, masing-masing anggota berhak menyampaikan pandangannya, tapi mbok ya dipikirkan cara lain supaya lebih elegan dan tidak menghabiskan waktu membahas itu lagi itu lagi.

Semakin saya terkantuk-kantuk, saya makin merasa beberapa anggota dewan sedang mendemonstrasikan keahliannya berargumentasi. Seseorang, saya lupa namanya, sampai berkali-kali dengan penuh semangat keliru menyebut nama institusi dan lokasinya. Setelah dibantah, dengan lihai beliau membelokkan permasalahan ke hal lain, betul saya perlu belajar berkelit dari beliau yang satu ini.

Saya sempat terbangun ketika beberapa anggota dewan memintakan perlakuan berbeda atas seseorang demi alasan stabilitas, padahal baru saja seluruh anggota meminta perlakuan yang sama bagi semua orang. Setelah minum seteguk teh, saya sadar, beliau-beliau ini mungkin harus memenuhi kewajibannya kepada para konstituen dengan menyampaikan dalam rapat tersebut.

Dan, ketika akhirnya televisi menghentikan siaran langsungnya sebelum rapat tersebut benar-benar berakhir, saya bertanya-tanya, ada ngga ya, lembaga yang menilai kualitas rapat-rapat kerja para anggota dewan itu? Dari pertanyaan dan perdebatannya?

Ah. Kalau saya punya production house, saya pasti bikin Legislative Idol. Ayo, siapa legislator favorit Anda, ketik LI spasi nomor keanggotaan dewan kirim ke ….

Sinetron Muslimah

Gara-gara beberapa hari ini saya mendapat kenikmatan boleh pulang cepat, akhirnya saya bisa sampai rumah sebelum jam 6 sore. Tapi, akibatnya, lagi-lagi saya terpapar pada deretan acara sinetron yang konyol.

Sekali ini tentang sinetron Muslimah yang tayang tiap hari di Indosiar. Ceritanya saya ngga begitu mengikuti karena tiba-tiba sudah mencapai episode di atas 150. Tapi saya sudah betul-betul jengkel dengan sinetron ini.

Idenya, sinetron ini mengambil dua setting: Indonesia dan Timur Tengah. Kekonyolan pertama, tiap kali pindah setting ke Timur Tengah, selalu didului musik padang pasir, dan… pemandangan gurun pasir dengan ontanya. Lantas ada seorang laki-laki berjalan, bersimpuh bersama beberapa orang menghadap padang pasir. Lalu ada gambar mobil yang bertemu dengan rombongan unta. Hayah! Ngga ada koleksi lain lagi apa? Saya sampai hafal begitu.

Kekonyolan yang paling utama, dan amat sangat luar biasa mengganggu sekali, adalah dialog dalam bahasa Arab yang sangat sangat sangat tidak lancar. Kelihatan sekali para pemain tidak fasih berbahasa Arab, mereka menghafal kata-kata tersebut dengan terbata-bata. Mannaaa ekspresinyaaaa ???

Okelah, ada sih yang pakai ekspresi, si ibu Fatum, majikannya Muslimah. Ekspresinya garing banget: telunjuknya dimajukan. Grrrhhh!!

Saya juga tidak suka dengan karakter di film ini. Para wanita yang berkerudung di sini ngga ada yang betul. Jahat bener, macam Lia dan Ibu Fatum. Ada yang gampang dibodohi macam Yasmin. Juga yang pasrah ngga ada daya juangnya macam Muslimah.

Hah! Pakai nama Muslimah pula, mewakili kaum wanita muslim!

Ck.